KORANJURI.COM – Teknologi Artificial Intelegence (AI) disebut-sebut mengancam aktifitas manusia di masa mendatang. Di sisi lain, banyak bidang-bidang pekerjaan yang akan terbantu oleh teknologi kecerdasan buatan ini.
Kepala Bagian Inkubasi Bisnis ITB STIKOM Bali Dedy Panji Agustino, S.Kom, MMSI. mengungkapkan, cabang ilmu komputer itu memiliki banyak keunggulan sekaligus kekurangan, jika dimanfaatkan untuk tujuan tidak baik.
“AI ini sebenernya sebuah mesin yang diberikan pengetahuan dan wujudnya dalam model matematika. Inputnya berupa data, dianalisis, diolah, sehingga mesin ini bisa menganalisa dan memutuskan sendiri, berdasarkan pengetahuan yang sudah diberikan,” kata Panji, Rabu, 7 Juni 2023.
Panji tak menampik, keberadaan teknologi AI akan membawa perubahan yang signifikan terhadap kehidupan umat manusia. Namun, kecerdasan buatan ini juga disebut mampu mengaburkan pandangan manusia terhadap kebenaran dan kebohongan.
AI saat ini juga mulai merambah ke segala aspek kehidupan. Dalam versi beta yang dirilis Adobe, sebuah perusahaan perangkat lunak di bidang grafis, animasi dan video menunjukkan, kemampuan kecerdasan buatan ini mampu membuat karya grafis hanya dengan menulis perintah dalam satu kata sekalipun.
“Karya seni yang dulunya dibuat manusia sekarang bisa dilakukan oleh mesin kecerdasan buatan ini. Dimana, AI mampu mengolah gambar secara otomatis dalam bentuk karya digital,” ujarnya.
Di sisi lain, menurut Panji, perkembangan teknologi kecerdasan buatan ini perlu diimbangi dengan edukasi kepada masyarakat. Mengingat, kemampuan AI berpotensi menjadi alat yang dimanfaatkan untuk tujuan tidak baik. Penyalahgunaan kemampuan AI ini dinilai Panji menjadi ancaman untuk disikapi secara serius .
“Ketika ada pihak-pihak yang menyalahgunakan untuk tujuan tertentu, terutama hoaks, gambar palsu, dan penipuan tertentu, sekarang sangat mudah dilakukan dengan AI. Inilah perkembangan yang tak bisa terelakkan lagi, intinya kita harus bijak menyikapi, saring sebelum sharing,” jelasnya.
Menyikapi konten di ranah dunia digital menurut Panji, dibutuhkan kewaspadaan untuk tidak menerima begitu saja konten yang tersebar secara viral. Panji mengingatkan, agar publik melakukan filter dari produk-produk digital yang beredar di dunia maya. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





