Menurut Lusinta, motorik kasar yang bergerak menggunakan otot-otot besar mempengaruhi perkembangan kemampuan merangkak, duduk, berdiri, berjalan, berlari. Sedangkan Motorik halus melakukan kegiatan pengamatan yang menggunakan otot-otot kecil misalnya meronce, menyusun kubus, menyusun balok, menulis, menggambar, mencoret-coret.
Kemudian untuk personal sosial merupakan kemampuan kemandirian seseorang seperti memakai kancing, memakai tali sepatu, melepas baju, mengganti celana. Terakhir, perkembangan bahasa bicara adalah respon terhadap perintah atau suara seperti mama papa, melaksanakan perintah, ketika dipanggil mendengarkan.
“Ketika berbicara tumbuh dan kembang tidak hanya memantau berat badan dan tinggi badan,” kata Lusinta dalam wawancaranya bersama Doodle Exclusive Baby Care.
Ia memberikan saran cara mengetahui anak mengalami keterlambatan atau tidak. Pertama, dari aspek pertumbuhan melakukan penimbangan setiap bulan ke posyandu, untuk mengecek timbang berat badan, ukur panjang badan, dan ukur lingkar kepala.
Di posyandu atau tenaga kesehatan ada catatan yang dimasukan ke dalam kurva yang akan dicek normal atau tidak. Selain posyandu bisa juga datang ke bidan atau mom and baby spa.
“Selanjutnya melakukan skrining perkembangan dengan menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST). Kedua, menggunakan Kuesioner praskrining Perkembangan (KPSP), apakah anak ada penyimpangan atau tidak. Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya,” jelasnya.
