KORANJURI.COM – Pembangunan proyek Bali Subway yang membangun kereta bawah tanah ditandai dengan Upacara Pengeruakan.
Pengeruakan sendiri berarti membuka dan mengubah status lahan yang difungsikan sebagai bangunan penunjang aktifitas manusia.
Harapannya agar pembangunan berjalan aman, lancar, dan menghadirkan kesejahteraan kepada masyarakat. Ngeruak berbeda dengan groundbreaking.
“Terus terang, awalnya saya was-was, deg-degan,” kata Pj. Gubernur Bali, SM Mahendra Jaya saat upacara pengeruakan TOD Sentral Parkir Kuta.
Menurut Mahendra Jaya, meskipun tanpa pendanaan dari APBD/APBN, proyek subway light rail transit (subway/LRT) itu diminati oleh investor.
“Saya sempat didatangi Menteri Energi Dubai. Beliau menyampaikan kepada saya bahwa ia siap berinvestasi dan mendanai proyek ini hingga 75 persen,” ujarnya.
Pembangunan subway yang menembus wilayah Kuta hingga Seminyak itu membutuhkan 8 mesin bor terowongan. Mesin tersebut akan tiba di Bali pada April 2025.
Jumlah mesin bor yang dibutuhkan jauh lebih banyak daripada yang digunakan dalam pembangunan MRT di Jakarta yang hanya menggunakan 2 mesin.
Selain itu, diameter terowongan yang digunakan mencapai 7,2 meter sedangkan MRT Jakarta hanya 6,4 meter.
Direktur Utama PT. Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) Ari Askhara mengatakan, opsi infrastruktur bawah tanah jadi pilihan yang tepat untuk pembangunan Bali urban railway. Sebab, pembangunan infrastruktur bertingkat dan pembangunan di atas lahan tidak memungkinkan dilakukan di Bali.
“Investasi yang dibutuhkan juga menggunakan pendekatan non konvensional yang belum pernah digunakan di Indonesia dan jarang digunakan di pasar global,” kata Ari Askhara.
Pembangunan Bali Subway akan dilakukan dalam empat tahap. Pertama, rute Bandara Ngurah Rai, Sentral Parkir Kuta, Seminyak, Berawa, dan Cemagi.
Tahap kedua, meliputi rute Bandara Ngurah Rai, Jimbaran, Universitas Udayana, dan Nusa Dua. Tahap ketiga menghubungkan Sentral Parkir Kuta-Sesetan, Renon, dan Sanur. Tahap empat melalui Renon, Sukawati, dan Ubud.
Pembangunan tahap pertama, kata Ari, membutuhkan waktu lebih lama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, karena melewati tanah berbatu.
“Tahap kedua untuk jalur Ngurah Rai-Nusa Dua, hanya melewati tanah kapur atau aluvial,” kata Ari. (Way)
