Tutup IKM Bali Bangkit III, Ketua Dekranasda Bali Ajak Lestarikan Kain Tenun Pegringsingan

oleh
Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster menutup Pameran IKM Bali Bangkit Tahap III Tahun 2023 di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar, Senin (8/5/2023) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Kain tenun Pegringsingan yang berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali, menjadi salah satu kain tenun dobel ikat yang ada di dunia. Selain di Indonesia, kain tenun dobel ikat juga ditemukan di Jepang dan India.

Ketua Dekranasda Bali Putri Suastini Koster mengungkapkan, keberadaan keunikan kain tenun Pegringsingan harus terus dilestarikan. Kain tenun tersebut bukan sekedar material fesyen semata tapi juga warisan budaya yang sangat luar biasa dan harus dijaga dengan baik.

“Ketika ini hilang betapa berdosanya kita, tidak mampu mewariskan kepada anak cucu. Selesai di generasi kita karena salah memperlakukan kain-kain tenun tradisional kita,” kata Putri Koster di Taman Budaya Denpasar, Senin (8/5/2023).

Dalam hal ini, Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster menutup pelaksanaan Pameran IKM Bali Bangkit Tahap III Tahun 2023 di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar.

Ditambahkan, Desa Tenganan Pegringsingan mengajarkan bagaimana menjaga warisan leluhurnya. Warga masyarakat di sana melakukan aktifitas menenun, menjual dan mengenakan hasil karya mereka.

Aktifitas itu juga didukung adanya peraturan adat atau awig-awig dan pararem yang mengharuskan masyarakat hanya menggunakan kain tenun Pegringsingan saat melaksanakan yadnya di desa.

“Jadi hulu dan hilirnya harus kita jaga dengan baik sehingga nantinya kita bisa mewariskan kepada anak cucu kita,” kata perempuan yang akrab disapa Bunda Putri ini.

Ia juga meminta agar pelestarian dilakukan oleh seluruh masyarakat Bali tanpa mengenal suku.

“Jika telah berada di Bali wajib melestarikan budaya dan tradisi Bali. Tidak hanya kain tenun dan songket Bali, namun juga aksara, bahasa dan sastra Bali,” ujarnya demikian.

Survei Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Bali mencatat, hanya 13% dari kain tenun endek Bali yang beredar di masyarakat merupakan produk asli yang di buat di Bali. Sementara, 87% sisanya merupakan produk luar Bali yang mendompleng atau melabeli diri dengan nama kain tenun endek Bali.

“Kita tidak alergi dengan produk dari luar. Tapi sampaikan bahwa ini tenun dari Troso, ini tenun dari Jepara, ini tenun dari Palembang, ini tenun dari NTT. Jangan semua dinamakan endek Bali,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh pihak agar tidak serta merta menjiplak motif songket Bali. Mengingat, ada undang-undang hak cipta dan sanksinya.

“Minimal kurungan 2 tahun penjara dan denda 300 juta,” kata Putri Koster.

Sementara, Pameran IKM Bali Bangkit telah berlangsung selama 3 tahun. Pengembangan UMKM itu menjadi solusi di saat pandemi covid-19. Menurut Putri Koster, saat pandemi hampir semua kegiatan terhenti yang berdampak pada pelambatan ekonomi.

IKM Bali Bangkit menjadi salah satu momentum kemajuan industri tenun dan kerajinan Bali. Bahkan omset yang diperoleh pengrajin meningkat jauh diatas penghasilan rata-rata sebelum pandemi covid-19.

“Jadi kita buktikan di tahun 2021 awal sampai 2022, omset penjualan mereka total mencapai 51 milyar rupiah,” ungkap Putri Koster. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS