KORANJURI.COM – SMPN 20 Purworejo, kini tengah mengembangkan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) Ular Tangga dan penilaian berbasis IT DIAR (Data Input Assesmen Record) Smart.
Adanya pengembangan ini, didasari saat sekolah melihat hasil raport pendidikan siswa pada tahun 2021, dimana pada poin tidak lanjut, setelah diamati hasilnya, diperlukan peningkatan mutu kegiatan belajar mengajar.
Dalam TGT ular tangga ini, pihak sekolah mengaplikasikan penggunaan game atau permainan anak-anak Ular Tangga, yang memiliki keunggulan memacu anak untuk membaca, kemudian merefresh kembali dengan menjawab soal-soal yang berada pada kartu soal.
“Ini kunci utamanya. Jadi merefresh kembali,” ungkap Drs Budi Arwanto, M.Pd., Si., Kepala SMPN 20 Purworejo, Senin (17/10/2022).
Secara teknis, dalam TGT ular tangga ini, sebelum anak menjalankan permainan, dia atau timnya ini harus menjawab soal dalam kartu tersebut dengan benar. Jika benar, nanti dari peserta itu menyimpan kartunya untuk penilaian individunya, dan timnya bisa memulai permainan dengan melontarkan dadu.
Tetapi kalau menjawabnya salah, kartu dikembalikan lagi ditumpukan kartu, kemudian permainan dilanjutkan untuk kelompok lain. Begitu terus menerus. Jika dalam satu putaran permainan kembali dimainkan oleh tim 2 misalnya, maka secara bergantian anggota tim 2 akan menjawab soal. Jika jawabannya benar maka dia akan melontarkan dadu dan melanjutkan permainan.
“Satu tim beranggotakan 2 siswa. Satu kit permainan, dimainkan untuk 4 tim (kelompok). Satu kelas, ada 4 kelompok permainan. Dan untuk mengecek jawaban dari kartu soal, ada kunci jawabannya. Jadi ada satu siswa atau guru yang bertugas sebagai juri,” jelas Budi, sambil menyebut, dari jawaban yang salah dan pengumpulan kartu soal, akan ditindaklanjuti dengan adanya diskusi dalam tim.
Dalam hal TGT ular tangga ini, sistim penilaiannya ada dua, secara individu dan kelompok atau tim. Secara individu, jika satu anggota tim bisa menjawab pertanyaan dan mengumpulkan kartu jawaban, maka kartu yang terbanyak yang juara. Untuk penilaian secara tim, maka tugu yang berada di tingkatan paling ataslah atau tertinggi dalam ular tangga, yang juara atau memenangkan permainan.
“Ini merupakan arena kompetisi. Biasanya tim-tim itu akan malu kalau tidak bisa menjawab. Unsur motivasi menjadi penting dalam permainan ini, karena anak menjadi termotivasi untuk membaca. Jadi sebelum permainan dijalankan biasanya guru atau yang mengendali dari permainan tersebut akan memberikan kesempatan 10 menit untuk membaca,” terang Budi.
Diakui oleh Budi, selain keunggulan dalam merefresh apa yang sudah dipelajari siswa, dalam TGT ular tangga ini kelemahannya jika terkait dengan numerasi atau hitung-hitungan sehingga waktunya menjadi lebih lama. Dan pembelajaran model ini bisa diterapkan pada semua mata pelajaran.
Dengan penilaian berbasis IT Diar Smart, menurut Budi, bisa diketahui secara cepat hasilnya, sehingga nanti akan diketahui siapa-siapa yang ikut remidi, sehingga masih ada waktu bagi guru untuk memberikan remidi bagi siswa.
“Penilaian berbasis IT Diar Smart ini, temuan teman kita, Bapak Mardi (alm), yang dikembangkan oleh guru SMPN 20 Purworejo, Sri Soenarti, S.Pd,” jelas Budi.
Cara kerja Penilaian Berbasis IT ini, dengan memasukkan gambar /foto kertas jawaban ke aplikasi Diar Smart. Dengan cara ini, sistem akan bekerja dan memberikan penilaian. Untuk soal dengan jawaban pilihan ganda, akan lebih cepat atau mudah membacanya, sehingga penilaian bisa cepat diketahui hasilnya. Namun jika jawaban soal berupa uraian dan jawabannya panjang, diperlukan penilaian secara manual.
“Pada UAS Desember nanti, kita akan menggunakan penilaian berbasis IT ini. Saat ini sedang kita ujicobakan pada kelas IX. Hasil dari uji coba ini kita diskusikan di IHT (In House Training). Pada hari pertama IHT, Penilaian Berbasis IT : DIAR Smart,” pungkas Budi. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS
