Semarakkan Hari Raya Kuningan, Lomba Penjor di Pura Sakenan Tampilkan Kreatifitas Muda Mudi Desa Serangan

oleh
Sekehe Teruna Teruni (STT) Desa Adat Serangan, Denpasar, menampilkan kreatifitas penjor hasil karya mereka di halaman Pura Sakenan, Kamis, 27 November 2025 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Nuansa Penjor tematik menghiasi halaman Pura Sakenan di Desa Adat Serangan, Denpasar. Penjor-penjor yang berdiri indah itu merupakan kreatifitas dari para muda mudi dari enam Banjar yang ada di desa itu.

Penjor yang menjadi bagian tradisi Hindu di Bali itu merupakan penjor hias yang dilombakan pada saat Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu, 29 November 2025.

Tema pembuatan penjor terkait tiga hal yang ada di Pura Sakenan yang diwakili dengan warna Kuning sebagai simbol Ketuhanan di Pura. Warna Biru mewakili simbol laut dan warna hijau dari unsur lingkungan sekitar yang merepresentasikan keberadaan hutan mangrove.

Klian adat Banjar Tengah, Desa Adat Serangan, Denpasar I Wayan Sudibia Udiana mengatakan, penjor yang dilombakan merupakan penjor hias. Namun, kreasinya tetap harus berpegang pada pakem adat dan filosofi dari penjor.

“Penjor itu sumber dari kemakmuran, kesejahteraan dan ucapan syukur. Jadi meski penjor hias untuk lomba tetap harus mencerminkan filosofinya seperti, harus ada hiasan dari unsur pala bungkah dan pala gantung,” kata Wayan Sudibia.

Pura Sakenan di Desa Adat Serangan, Denpasar – foto: Koranjuri.com

Menjelang Hari Raya Kuningan, warga di Desa Serangan saling bergotong royong menyiapkan perlengkapan upacara adat di Pura Sakenan. Lima penjor hias yang berdiri gagah itu menjadi bagian dari semaraknya perayaan Hari Raya Kuningan di Desa Adat Serangan.

“Lomba penjor ini didukung oleh PT BTID (pengelola KEK Kura Kura Bali) dan bertepatan dengan piodalan Pura Sakenan yang jatuh setiap hari raya Kuningan,” jelas Wayan Sudibia.

Lomba adat itu diikuti oleh enam Banjar di Desa Adat Serangan, Denpasar. Setiap Sekehe Teruna Teruni (STT) atau Karang Taruna membuat satu buah penjor hias dengan segala kreatifitasnya.

I Kadek Robby Merta Dana dari STT Banjar Kaja Serangan mengatakan, perlengkapan penjor dan hiasannya sudah disiapkan sejak sebulan sebelumnya. Dengan berbagai kendala yang dihadapi akhirnya penjor senilai Rp15 juta itu berdiri dengan hiasan indah.

“Kendalanya ada anggota STT kita yang bekerja dan masih sekolah, jadi tim yang membuat penjor ini tidak maksimal. Untuk penjor yang kita buat ini sudah menghabiskan biaya di atas Rp15 juta,” kata Robby.

Anak Agung Rimbya Temaja selaku penilai mengatakan, kelengkapan dalam satu buah penjor menjadi pertimbangan utama dalam penilaian. Kriteria penilaian selanjutnya, keserasian dari hiasan yang digunakan dan kreatifitas.

Penjor yang dilombakan ketinggiannya ditentukan 12 meter dengan lengkungan dan hiasan yang serasi. Menurut Agung Rimbya, penjor merupakan simbol dari gunung dengan ujung di atasnya melengkung dan naga.

“Hiasan di atas itu merupakan kepala naga yang merepresentasikan Naga Besuki yang artinya keselamatan dalam mitologi Bali di Pura Besakih,” kata Agung Rimbya Temaja.

Makna penjor sebagai lambang gunung terlihat dari hiasan-hiasan yang seluruhnya berasal dari hasil bumi yang tumbuh di pegunungan.

“Penjor yang dilombakan ini punya dua fungsi, sebagai hiasan dan sarana upakara dalam momen hari besar seperti Galungan dan Kuningan,” jelasnya. (Way)