KORANJURI.COM – Memasuki musim kemarau, BPPD Kabupaten Purworejo mulai melakukan dropping air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
Hal itu disebabkan, memasuki musim kemarau di tahun 2024 ini, sumber mata air dan sumur-sumur di sejumlah wilayah tersebut mulai mengering.
Kabid Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo, Suparyono, menyebutkan, pihaknya sudah melakukan dropping air sejak 1 Juli 2024.
“Hingga hari ini sudah ada 58 tangki air bersih yang dikirim ke 5 desa di 4 kecamatan,” jelas Paryono, saat ditemui dikantornya, pada Jumat (19/07/2024).
Disebutkan 5 desa yang telah mendapatkan bantuan air bersih itu diantaranya Desa Somorejo dan Desa Tlogokotes, Kecamatan Bagelen, kemudian Desa Karangsari, Kecamatan Purwodadi, Desa Rowodadi, Kecamatan Grabag, dan Dusun Jambean, Desa Sidorejo, Kecamatan Purworejo.
Beberapa permintaan dropping air bersih, kata Paryono, sudah mulai masuk ke kantornya. Dalam sehari BPBD secara maksimal melakukan dropping sebanyak 12 kali, dengan menggunakan 3 armada tangki berkapasitas 5000 liter per tangki.
Di tahun 2024 ini, ungkap Paryono, BPBD Kabupaten Purworejo telah menyediakan 900 tangki air bersih. Selain itu di anggaran APBD perubahan, BPBD Purworejo juga mendapatkan tambahan alokasi sebanyak 300 tangki air bersih.
“Untuk kebutuhan air bersih di tahun 2024 ini memang tidak seperti tahun kemarin, dimana kemarin banyak desa yang mengalami kekeringan,” terang Paryono.
Karena tahun lalu sungai Bogowonto susut, saluran Kedung Putri juga ditutup dan aliran dari Wadaslintang juga ditutup, sehingga mempengaruhi debit air ke pemukiman, yang menyebabkan debit sumber mata air menjadi susut.
Dalam dropping air ini, Paryono meminta pada desa yang membutuhkan, agar mempersiapkan tempat penampungan air, baik menggunakan penampungan eks pamsimas atau bak menggunakan terpal.
Dikatakan, menurut keterangan dari BMKG, untuk Kabupaten Purworejo musim kemarau di tahun 2024 ini sudah dimulai sekitar bulan Mei lalu. Namun demikian, dari BMKG juga menyampaikan bahwa di musim kemarau ini, curah hujan dalam kategori rendah masih terjadi.
“Prediksi puncak musim kemarau akan terjadi di bulan Agustus dan September mendatang,” pungkasnya. (Jon)
