Sejarah Berdirinya UNDHA AUB Sebagai Cikal Bakal Kampus Tertua Di Solo

oleh
Kampus UNDHA AUB Surakarta - foto: Istimewa

Masih pada tahun 1956, Tukidjo memprakarsai festival pedalangan di pagelaran keraton Surakarta, sekaligus mempelopori pembentukan BALADIKA WIRAPATI dalam rangka mempertahankan Pancasila/UUD 1945 dan pengamanan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Tahun 1960 ia ikut memprakarsai Gerakan Pembangunan Gedung Sekolah dalam rangka kewajiban belajar dan telah berhasil membangun enam sekolah dasar di Purwodiningratan Solo. Selanjutnya, sekolah tersebut diserahkan kepada Pemerintah.

Masih di sekitar tahun yang sama, Tukidjo Martoatmodjo membuat Taman Kanak Kanak Siwi Peni di Purwodiningratan Solo. Tahun 1962 aktif di Front Nasional Kodya Surakarta.

Pada tahun 1966 dibantu oleh lima orang teman dekatnya, Tukidjo Martoatmodjo mendirikan Yayasan Dharma Pancasila sebagai cikal bakal organisasi yang menaungi AUB Surakarta. Tiga tahun selanjutnya, di tahun 1969, Yayasan Dharma Pancasila mendirikan Akademi Uang Bank Pancasila sebagai cikal bakal dari perguruan tinggi Universitas Dharma AUB Surakarta.

Kemudian pada tahun 1972 Tukidjo Martoatmodjo mendirikan Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) atas restu para sesepuh diantaranya, GPH Hadiwidjaya, KHP Soemoharjomo dan Ki Nartosabdo.

Lanjut pada tahun 1973, ia mendirikan Akademi Pendidikan Sekretaris yang sekarang menjadi Akademi Sekretaris dan Manajemen Pendidikan (ASMI) Solo.

Kemudian, mendirikan Akademi Teknik Perindustrian (ATP) Surakarta pada tahun 1976. Disusul dua tahun kemudian mendirikan Akademi Transmigrasi dan Tenaga Kerja Indonesia (ATTKI) yang sekarang menjadi Akademi Managemen Industri (AMI) Surakarta.

Tukidjo juga mendirikan SMA Pancasila, Solo, SMA Pancasila Pedan, SMP Dharma Pancasila di Mojosongo, Solo, serta beberapa TK Dharma Pancasila di Kota solo.

Tahun 1968 mendirikan Biro administrasi dan Pelayanan Masyarakat (BAPEMAS) dan mendirikan kursus kursus tertulis (S.A.A dan S.P.A) pada tahun 1973.

Setahun sebelumnya Tukidjo mendirikan lembaga pengamalan Pancasila dengan mengadakan sarasehan dan penataran tentang pengamalan Pancasila.

Kemudian mendirikan lembaga komunikasi konsumen dan produsen pada tahun 1973, serta persatuan pengarang sastra jawa dan Indonesia, Koran Mardiko Dharmakanda yang terbit pada tanggal 5 Oktober 1969 dan LPK Dharma Pancasila dan Poliklinik Tri Dharma Husada pada tahun 1995.

Sederet perjuangan pendiri AUB ini tentu merupakan pesan dan amanat yang harus dipegang teguh oleh para penerus di dalam mengelola kampus sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa.

Universitas Dharma AUB Surakarta tidak hanya meneguhkan diri sebagai kampus Nasionalis yang berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945, namun juga mempelopori upaya penyelamatan dan pelestarian budaya, khususnya adi luhung budaya jawa. (Tok)