Sastrawan dari 20 Negara Bakal Ramaikan Ubud Writers & Readers Festival 2025

oleh
Festival Sastra terbesar di Asia Tenggara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali digelar tahun ini - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Festival Sastra Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini kembali digelar dengan menghadirkan 250 pembicara dari lebih dari 20 negara.

Selain itu, lebih dari 70 penulis, seniman, aktivis, akademisi dan pegiat kebudayaan Bali akan meramaikan festival ini. Termasuk, maestro tari topeng Bali dan akademisi I Made Bandem.

Budayawan Made Bandem akan tampil dalam program bertajuk ‘Masks of Bali: Between Heaven and Hell’. Dia akan menuturkan asal-usul serta warisan hidup dari tari topeng Bali.

Founder Ubud Writers & Readers Festival I Ketut Suardana mengatakan, tahun ini pihaknya mengajak sejumlah penulis-penulis di daerah menggelar festival serupa.

“Kita ada satellite festival yang bertujuan mendorong penulis-penulis di daerah menggelar event seperti UWRF ini,” kata Ketut Suardana di Denpasar, Rabu, 15 Oktober 2025.

UWRF 2025 menghadirkan 200 program selama festival digelar mulai 29 Oktober – 2 November 2025 di Ubud, Bali. Pegiat sastra asing yang akan hadir di antaranya berasal dari India, Australia, Kolombia, Turki, Swedia, dan Amerika Serikat.

Tahun ini, UWRF 2025 mengangkat tema ‘Aham Brahmasmi: I am the Universe’. Ungkapan itu berasal dari konsep Sansekerta dalam kearifan Hindu kuno Brihadaranyaka Upanishad yang menekankan kesatuan antara manusia dan alam semesta.

Pelaku sastra yang akan tampil dalam UWRF 2025 salah satunya adalah penulis dan dosen sastra Jawa Kuno kelahiran Batur, Bangli, Jero Penyarikan Duuran Batur I Ketut Eriada Ariana.

Jero Ariana mengatakan, ritual di Bali sangat beririsan dengan alam. Dalam konteks kosmologi Bali sekarang, banyak yang sudah lupa akan hubungan antara hulu dan hilirnya

“Kita perlu kembali memahami situasi Bali yang kini berjalan apa adanya, padahal makna kedekatan dengan alam sesungguhnya sangat erat dengan dinamika sosial dan budaya,” kata Jro Ariana.

Namun, bagaimana jika ritual hanya dimaknai sebagai rutinitas belaka?

Wayan Karja, penulis dan seniman Bali sekaligus mantan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar mengungkapkan, orang Bali mewarnai hari-hari mereka dengan ritual.

“Upaya saya adalah mengembalikan kesadaran di balik ritual itu, bahwa di dalamnya ada nilai, ada makna, dan ada upaya manusia untuk terus terhubung dengan yang sakral,” kata Wayan Karja.

Sementara, penulis dan pengajar asal Bali Ni Nyoman Ayu Suciarti mengungkapkan, peran UWRF sebagai platform penting bagi perkembangan sastra Bali. Festival itu menjadi medium untuk memperkenalkan cerita-cerita Bali kepada anak muda.

“Saya akan meluncurkan buku berjudul Tutur Tantri di UWRF. Cerita ini saya tulis berangkat dari keresahan di kalangan anak-anak. Saya ingin mengalihwahanakan penuturan ke dalam bentuk buku agar tetap hidup dan dapat diwariskan kembali,” kata Ayu. (Way)