KORANJURI.COM – Puncak perayaan Waisak yang digelar di Candi Borobudur, Magelang, diakhiri dengan penerbangan lampion, Kamis (23/5/2024).
Ribuan umat Budha dan pengunjung tetap antusias menembus lokasi yang tengah diguyur hujan rintik-rintik. Mereka berasal dari berbagai Kota dan Provinsi di tanah air.
Antrean pengunjung yang ingin mengikuti sesi kegiatan terlihat memanjang dari pintu masuk area candi.
Gracia seorang pengunjung mengatakan, keberuntungan menyertainya. Dia kehabisan tiket untuk ikut melepaskan lampion. Namun, tiba-tiba saja dirinya didatangi seseorang yang tidak dikenal. Kemudian, diberikan tiket VIP.
“Kamma baikku,” katanya dengan sumringah.
Sementara, dalam kesempatan terpisah, Bhante Mahawira asal Thailand menjelaskan makna Budhis. Budhis adalah tentang buah pikiran.
Pikiran baik akan memunculkan perbuatan atau kamma baik. Pikiran buruk akan memunculkan perbuatan kamma buruk.
“Dalam setiap laku, setiap perbuatan diperlukan kesadaran,” kata Bhante Mahawira.
Menurutnya, sumber penderitaan manusia berawal dari diri sendiri. Dari pikiran-pikiran yang muncul.
Ia menjelaskan, ada dasa sila yang harus dilakukan supaya manusia terhindar dari penderitaan. Dasa Sila tersebut yakni, tidak membunuh, tidak mengambil milik orang atau tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berkata bohong, dan tidak makan atau minum minuman yang tidak baik.
“Itu sebabnya kita harus selalu memupuk pikiran yang baik, tidak curiga, tidak berbohong, tidak menginginkan apa yang bukan milik kita dan lain sebagainya. (AK)
