Produktif Tulis Buku, Karya I Ketut Sumedana Pernah Sold Out 20.000 Eksemplar

oleh
Kepala Kejaksaan Tinggi Bali I Ketut Sumedana - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kepala Kejaksaan Tinggi Bali I Ketut Sumedana menjadi sosok yang produktif menerbitkan buku. Dalam waktu empat tahun terakhir Sumedana sudah menerbitkan 9 judul buku.

Judul buku teranyar yang dirilis bertepatan dengan peluncuran Program Jaga Desa berjudul ‘Balai Kerta Adhyaksa’ Menanam Harmoni di Tanah Bali.

Buku-buku yang diterbitkannya tak jauh dari profesinya sebagai aparat penegak hukum. Balai Kerta Adhyaksa, kata Ketut Sumedana, mengangkat tentang penyelesaian persoalan di desa berbasis kearifan lokal masyarakat Bali.

“Buku yang sekarang dirilis berisi implementasi, kolaborasi antara living lowdan positive low. Disitu juga ada rancangan Perda dan sekarang sudah disahkan Perda nya, makanya kita berani tampilkan di dalam isi buku,” kata Sumedana di Kantor Kejati Bali, Kamis, 11 September 2025.

Kearifan lokal yang jadi rujukan untuk menyelesaikan persoalan dalam kerangka restorative justice. Persoalan sengketa dan permasalahan tidak selalu harus diselesaikan melalui jalur hukum.

“Kalau isi buku ini diberlakukan dalam bentuk Perda maka kasus-kasus di masyarakat seperti pengucilan atau kasepekang akan hilang, itu kan pelanggaran HAM, harapan kita seperti itu,” kata Sumedana.

Menurutnya, ide penulisan mengangkat kearifan lokal Bali itu didasarkan pada penelitiannya terhadap kebudayaan yang ada di Indonesia dalam menyelesaikan persoalan hukum.

Dari delapan kearifan lokal yang dimiliki suku bangsa di Indonesia, local genius di Bali menjadi yang paling eksis dan tetap hidup di tengah-tengah masyarakat.

“Kita cinta dengan adat budaya Bali, mengajegan adat dan budaya Bali,” ujarnya.

Sebelumnya, I Ketut Sumedana telah menerbitkan beberapa buku di antaranya berjudul, ‘Balai Mediasi’ dan ‘Mediasi Penal’. Dua buku itu menjelaskan praktik restorasi hukum di tingkat bawah dan restorasi di tingkat atas.

“Yang tingkat bawah namanya balai mediasi yang tingkat kakap namanya mediasi penal. Semua terjual habis 20.000 eksemplar,” ujarnya.

“Ke depan, saya ingin satu tahun satu buku saya terbitkan,” tambahnya. (Way)