KORANJURI.COM – Para tokoh dunia, pemimpin global, tokoh spiritual hingga seniman terkenal dunia berkumpul di Bali untuk melakukan refleksi global, Sabtu, 14 Desember 2024.
Melalui proses perenungan dan mendengarkan diyakini akan mendapatkan solusi moderen dalam mengatasi tantangan global yang terjadi saat ini.
Refleksi global yang diadaptasi dengan kearifan lokal Bali Tri Hita Karana mengangkat persatuan dalam keberagaman untuk perdamaian, kemakmuran, rakyat, planet dan kemitraan.
Presiden United in Diversity (UID) Foundation Tantowi Yahya mengatakan, simbol itu telah ditunjukkan oleh kehadiran pemimpin global Paus Fransiskus saat melakukan perjalanan Apostolik di Indonesia pada September 2024 lalu.
Menurut Tantowi, pertemuan dua tokoh besar yang mewakili dua agama terbesar di dunia, Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, bersepakat untuk menuju dunia berkeadilan dan damai hanya ada satu cara lain selain bersatu dalam kedamaian.
“Konflik antar suku, konflik antar ras di dunia dan Indonesia sedang terjadi, jadi melalui dua tokoh besar itu, mereka bersama-sama berangkulan, untuk mewujudkan kedamaian dunia,” kata Tantowi Yahya.
Menurut Tantowi, Tri Hita Karana Universal (THK U) Reflection Journey menjadi gerakan untuk membangun masa
depan berkelanjutan berdasarkan prinsip- prinsip harmoni antara manusia, alam dan
spiritualitas.
Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid menambahkan, sebagai jaringan lintas iman, Gusdurian berharap para pemuka agama bukan hanya melihat persoalan di tempat ibadah saja.
Alissa mengajak tokoh agama menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan. Dirinya juga mengajak para pemuka agama mendorong kebijakan pemerintah agar berpihak kepada rakyat.
“Kita ingin agar para pemuka agama kembali ke zaman Gus Dur dulu, Romo Mangun, Ibu Ida Gedong Bagus Oka, itu membawa agama bukan hanya urusan di rumah ibadah tapi untuk menangani persoalan di lapangan,” kata Alissa Wahid di Bali.
Sementara, influencer Merry Riana mengatakan, refleksi dilakukan untuk menghubungkan apa yang telah terjadi dan sedang berlangsung pada saat ini.
“Dengan refleksi kita bisa mendengar suara hati kita, mendengar suara alam, mendengar suara Tuhan, dan dari situ kita bisa mengkoneksikan lebih lagi,” kata Merry Riana.
Keterlibatannya dalam pertemuan refleksi global Tri Hita Karana itu memberikan pandangan baru terkait banyak hal. Kehidupan menurutnya, punya kecenderungan egosentris.
Namun, saat ini dunia membutuhkan gerakan baru yang disebut ekosentris, menempatkan komunitas lebih sentral dari segalanya.
“Jadi bagaimana kita bisa berharmoni dengan bukan dengan diri kita sendiri tapi juga berharmoni dengan alam, dengan hidup ini, itu satu hal yang saya sangat seneng banget, dan semoga apa yang dilakukan di sini bisa diteruskan dan dibagikan,” kata Merry.
Tri Hita Karana Universal (THK U) Reflection Journey berlangsung selama dua hari, 13-14 September 2024 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar.
Kegiatan itu mendapatkan dukungan dari para tokoh dunia seperti, pemimpin umat Katholik dunia Paus Fransiskus, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, peraih penghargaan Hollywood Michelle Yeoh, Presiden Bank Dunia Ajay Banga.
Pendiri Bridgewater Ray Dalio, pemimpin spiritual Deepak Chopra, filantropis Susan Rockefeller, dan pemerintah Indonesia beserta para tokoh nasional. Mereka bergabung dalam kegiatan untuk merayakan persatuan, keragaman, dan pembangunan berkelanjutan. (Way)
