Untuk pertama kalinya, Nyoman Mandra menjual sketsa lukisannya di usia 9 tahun atau saat dirinya duduk di kelas tiga sekolah dasar. Secara tidak langsung, bakat melukisnya diwarisi dari lingkungan yang hampir semuanya pengrajin seni.
Namun di luar itu, Mandra tetap berusaha mengkoleksi sebagian lukisannya untuk keperluan pembelajaran. Di galerinya yang berada di Banjar Sangging, Kamasan, Klungkung, Bali, puluhan lukisan terpajang di dinding, bersama sejumlah penghargaan dan foto kenangan ketika para tokoh-tokoh penting negeri ini maupun artis, datang ke tempat kerjanya. Mandra mengatakan, lukisan itu tidak untuk dijual.
“Ini untuk koleksi pribadi sekaligus untuk media pembelajaran mahasiswa seni lukis. Selain pembeli atau pedagang lukisan, kami juga sering kedatangan mahasiswa untuk melakukan study banding,” jelasnya demikian.
Lukisan yang corak ragamnya hampir sama namun berbeda kisah tersebut, dikoleksi sejak tahun 1970. Bahkan ada satu lukisan yang dibuat mirip sketsa saja. Namun, pengerjaannya cukup detail dengan gradasi warna yang dibuat dengan kemampuan sangat mumpuni.
Lukisan itu menggambarkan kehidupan masyarakat Bali tempo dulu dalam sebuah upacara yang menggambarkan, kematian sang suami haruslah diikuti dengan kerelaan sang istri mengikuti kepergian belahan jiwanya. Ada lagi lukisan yang berjudul ‘Bhisma Gugur’ dengan coretan cukup detail sehingga terkesan hidup.
“Hampir semuanya lukisan ini didasarkan cerita Mahabarata dan Ramayana. Cuma rekaannya menyesuaikan mood agar terlihat lebih indah dan mudah dinikmati,” ungkapnya demikian.
Di tempatnya, Nyoman Mandra menjadi pioneer pelukis wayang dari generasi lebih muda yang hasil karyanya cukup berpengaruh. Karyanya mulai terlihat di tahun 1946 yang kemudian dikenal dengan gaya Kamasan sampai sekarang.
way
