Alat dan perangkat yang digunakan saat membuat lukisan wayang pun, tetap memanfaatkan bahan-bahan tradisional, seperti bambu, bahan warna alami dari bebatuan, sampai warna yang diproses dari jelaga. Media lukis yang disebutnya dengan kanvas, diproses sendiri dari bahan kain katun yang dikanji agar kaku, kemudian diseterika. Memang, secara material media lukis itu bukan kain kanvas seperti pada umumnya. Tapi media lukis yang dibuat secara manual yang akhirnya mirip kain kanvas.
“Kanvas ini saya buat sendiri. Karena proses pewarnaan lebih banyak menggunakan alat dari bambu yang dibuat seperti pensil. Kalau dilihat, proses pewarnaannya seperti membatik, butuh ketelatenan dan ibu-ibu biasanya punya kesabaran melakukan tugas seperti itu,” kata Mandra.
Tahapan melukis wayang itu, dijelaskan Nyoman Mandra, diantaranya membuat skenario terutama dari dasar terlebih dulu berupa setting lokasi. Kemudian, memutuskan karakter apa saja yang akan dituangkan dalam lukisan menurut cerita yang akan digarap. Lalu, membuat coretan dengan menggunakan pensil atau tinta jelaga yang berwarna hitam. Tahap terakhir berupa, penajaman garis sketsa dengan tinta permanen atau disebut dengan mangsi.
“Proses akhir ini kami sebut rekaan. Setelah itu berarti lukisan sudah jadi dan tinggal dipajang atau dijual ke pembeli yang berminat,” ungkap Mandra.
Sedangkan untuk bahan warna, terutama untuk lukisan kelas halus, Nyoman Mandra menggunakan bahan-bahan alami seperti, bebatuan yang diambil dari pantai. Biasanya, batu-batu tersebut digerus dan diproses untuk membuat warna coklat bata. Ada juga bahan dari tumbuhan seperti daun taum untuk warna indigo atau biru tua, kencu untuk membuat warna merkuri atau merah dan ancur, sejenis batang tumbuhan untuk membuat warna warna clear atau tembus pandang.
Hanya saja, meski lukisan gaya Kamasan pernah berjaya dan menguasai pasar sampai luar negeri. Sekarang, para pengrajin lukisan ini hanya mengandalkan pemandu wisata dan agen perjalanan wisata untuk menjual lukisannya. Mandra mengatakan, dirinya pernah memiliki penggemar potensial di Illinois, Amerika Serikat. Namun sekarang, permintaan dari negeri Paman Sam, sudah tidak ada lagi. Pejabat sekelas Moerdiono almarhum dan artis kawakan, Poppy Darsono juga sering bertandang di galeri lukisnya untuk memboyong satu atau dua karya Mandra.
“Seperti kita tahu sekarang, Amerika lagi krisis, sementara kondisi Indonesia juga carut marut. Meski perekonomian kita katanya membaik, tapi kebutuhan juga naik. Jadi pengaruhnya terasa sekali, kalau punya uang lebih baik untuk belanja yang lebih penting. Tapi, saya tetap bersyukur karena masih ada wisatawan yang suka dan mau beli lukisan gaya Kamasan,” terang Nyoman Mandra.
Selain tetap bekerjasama dengan pemandu wisata dan agen perjalanan, Nyoman Mandra juga menjalin hubungan dengan pemilik artshop yang berminat ‘menjajakan’ karya lukisannya. Setiap hari pun, ia tak pernah berhenti berproduksi. Bermeter-meter kain yang sudah berisi sketsa tetap dikerjakan oleh pekerja borongan.
“Lukisan kelas halus memang jarang diproduksi. Tapi kita andalkan yang kelas sedang dengan berbagai ukuran yang harganya terjangkau. Justru itu sekarang yang cukup laku. Ukuran yang besar-besar, kita produksi untuk koleksi sendiri dulu, kalau ada yang berminat ya kita jual,” terang Nyoman Mandra.
Uniknya disitu, beberapa karya lukisan wayang justru ada yang menyerupai bentuk komik, ada lukisan ada juga dialog yang ditulis dengan huruf sansekerta. Dikatakan, lukisan itu diambil dari penggalan lontar yang berisi petuah atau dari lontar pengobatan.
“Tapi ada penggemar lukisan yang merasa terganggu dengan adanya tulisan, karena pandangannya terpecah antara gambar dan tulisan. Biasanya, lukisan dengan teks begitu saya buat karena pesanan,” ungkap Mandra.
Pioner
