KORANJURI.COM – Untuk memeriahkan HUT Ke-80 RI, siswa sekolah internasional SMP Cendekia Harapan, Badung, berlomba menciptakan aplikasi pengelolaan sampah.
Kompetisi Hackathon merupakan adu kreatifitas siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar terutama di Bali.
Dua kelompok yang bertanding mempresentasikan aplikasi karya mereka dalam menangani persoalan sampah.
Aplikasi yang ditawarkan langsung dinilai oleh para juri yang terdiri dari Anak Agung Gede Agung Dalem dari Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kabupaten Badung dan Ni Made Pertiwi Jaya, akademisi Universitas Udayana.
Genevieve Ilinca Phan, siswa kelas 8 mengungkapkan, selama ini dirinya selalu melihat kondisi sampah tidak terkelola dengan baik.
“Sekalipun sudah ada tempat sampah tapi saya melihat masih ada sampah di meja, di dalam kelas, entah di lantai. Padahal, kita sudah diajarkan untuk memungut dan membuang sampah pada tempatnya,” kata Genevieve, Jumat, 15 Agustus 2025.
Saat aplikasi itu dipaparkan di hadapan para juri, Genevieve mengaku masih butuh penyempurnaan lagi karena belum ada pengelompokan jenis sampah residu.
“Nanti kita akan tambahkan untuk sampah residu. Karena kita belum pikirkan sebelumnya untuk sampah residu, yang kita kelompokkan hanya sampah organik dan anorganik,” jelasnya.
Dalam proses penciptaan aplikasi itu, Genevieve berperan dalam membuat desain aplikasi dan menawarkan ide pengembangan.
Siswa lain Alviera Hazelle Baskara dari kelas 7 SMP Cendekia Harapan mengungkapkan, ia dan kelompoknya juga menciptakan aplikasi serupa.
Di sekolah itu, Alviera mengaku dilatih menjadi pemikir kritis dalam melihat persoalan yang ada di lingkungannya. Termasuk, dalam persoalan menangani sampah dengan benar.
“Kami juga masih perlu menyempurnakan aplikasinya terlebih dulu, harus diimprove supaya nanti bisa berfungsi maksimal. Kan tadi sudah dipresentasikan dan sudah dapat feedback dari judges,” kata Alviera.
Rifki Pratama, salah satu guru komputer sekolah itu melihat, saat ini sampah menjadi isu yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Persoalan itu kemudian jadi pemantik dan diangkat dalam agenda kompetisi Hackathon.
“Sebagai cerminan alumni, kami mengadakan lomba ini sesuai visi misi sekolah empowering scholars to build better communities, siswa dididik agar mampu membangun komunitas yang lebih baik,” kata Rifki.
Sementara, Anak Agung Gede Agung Dalem, salah satu juri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kabupaten Badung mengatakan, sekolah harus memulai menerapkan pendidikan pengelolaan sampah.
Dirinya menyoroti, pemahaman pengelolaan sampah belum dilakukan secara spesifik sebagai budaya. Selain itu, sekolah juga harus menyiapkan tempat pemilahan dan pengolahan sampah.
“Termasuk, gudang untuk menitipkan sampah anorganik karena sampah jenis itu masih bisa disalurkan ke bank sampah,” kata Agung Dalem.
“Ketika para siswa sudah mengerti apa itu sampah dan harus diapakan ini akan sangat membantu pemerintah mengelola sampah secara final,” tambahnya. (Way)
