Gunung setinggi kurang lebih 300 meter dari atas permukaan air laut tersebut berada di kawasan bukit kapur. Pada saat musim kemarau datang, penduduk hanya mengandalkan hidup dari hasil pertanian jagung. Sedangkan pada saat musim penghujan, penduduk akan beralih bercocok tanam padi.
Para pelaku ritual yang datang ke Gunung Kemukus biasanya ramai pada saat malam Jumat Pon. Sedangkan pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon, tak seramai malam Jumat Pon. Karena malam Jumat Pon merupakan Pasaran Gunung Kemukus.
Merebaknya prostitusi di Gunung Kemukus dipicu adanya keyakinan jika kesuksesan akan didapat setelah melakukan ritual seks bersama pasangan yang ditemui di areal itu. ‘Jasa perselingkuhan’ dan hubungan intim pun akhirnya membuat banyak pekerja seks komersial dari segala penjuru daerah datang dan menetap di Gunung Kemukus. Mereka mengontrak tanah dan rumah untuk kegiatan hiburan malam dan prostitusi.
Obyek wisata yang semula sakral mulai berubah menjadi ajang prostitusi seiring dengan merebaknya mitos bahwa hubungan intim dengan pasangan selingkuh di Gunung Kemukus akan mendatangkan kekayaan. Ritual yang semula sebagai sarana ngalap berkah atau memohon berkah kepada Sang Pencipta, akhirnya berubah menjadi tempat untuk berburu kekayaan dengan cara tak lazim.
Pemahaman keliru tersebut semakin diyakini, ketika pelaku ritual berhasil memperoleh kesuksesan usai mereka melakukan hubungan intim dengan selingkuhan di Gunung Kemukus selama tujuh kali pada setiap malam Jumat. (JK)
