KORANJURI.COM – Sawah dan subak di Jatiluwih, Tabanan, menjadi bagian tak terpisahkan dari filosofi kebudayaan yang masih bertahan sampai sekarang.
Kebudayaan agraris yang berkembang menciptakan kreasi yang tak lepas dari kearifan lokal masyarakat. Proses penciptaan yang berlangsung menampilkan keindahan seni dan menyatu dengan kehidupan masyarakat petani.
Jatiluwih bukan sekedar hamparan sawah. Tapi di dalamnya menyimpan kekayaan gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Sistem nilai itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Hasil karya budaya pertanian di Jatiluwih itu masih bisa dijumpai sampai sekarang. Berikut tiga perangkat tradisional yang masih bertahan di hamparan sawah berundah Jatiluwih.
1. Lelakut
Boneka pengusir burung ini diletakkan di pematang sawah. Kreatifitas tradisi itu lebih dari sekedar penakut burung, Lelakut sawah memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat agraris di Bali.
Mereka adalah simbol penjaga sawah, representasi spiritual yang diyakini dapat melindungi tanaman padi dari hama dan kekuatan negatif.
Proses pembuatan Lelakut pun tidak boleh asal-asalan dan sembarangan. Seringkali melibatkan ritual dan penggunaan bahan-bahan alami seperti bambu, jerami, serta pakaian bekas yang diyakini membawa energi positif.
Keunikan Lelakut sawah di Jatiluwih terletak pada keberadaan mereka yang menyatu dengan lanskap sawah bertingkat yang menakjubkan. Bentuk dan rupanya bisa sangat beragam, ada yang menyerupai manusia dengan pakaian lengkap, ada pula yang lebih sederhana.
Meskipun fungsinya secara praktis adalah untuk mengusir burung dan hama, masyarakat setempat memandang Lelakut sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem sawah dan tradisi subak.
Lelakut sawah di Jatiluwih bukan hanya artefak budaya, melainkan juga cerminan dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam budaya Bali. Mereka mengingatkan akan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis dan menghargai warisan nenek moyang.
2. Bado
Di balik hamparan hijau sawah Jatiluwih terdapat bangunan-bangunan kecil yang disebut bado. Ukurannya bervariasi antara 4×3 meter hingga 4×5 meter.
Bado di persawahan itu punya peran penting dalam kehidupan petani Jatiluwih. Dangau atau Bado ini bagi petani di Desa Jatiluwih, menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap budaya subak yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Bado juga berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi petani dari terik matahari dan hujan. Di sini, para petani dapat beristirahat sejenak, menikmati makan siang, dan meresapi keindahan alam yang mengelilingi mereka.
Dibangun dari bahan alami seperti bambu dan kayu dengan atap genteng tanah, bado mencerminkan harmoni antara manusia dan alam yang telah terjalin selama berabad-abad.
Simbol Kearifan Lokal dan Keberlanjutan
Keberadaan bado tidak hanya mencerminkan kesederhanaan hidup para petani. Tapi juga simbol kearifan lokal yang mengajarkan ketergantungan manusia pada alam dengan cara yang bijaksana.
Struktur tradisional ini merupakan bukti nyata bagaimana masyarakat Jatiluwih telah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah tersebut populer.
3. Kepuaan
Ketua Subak Tempek Kedamaian Pekak Sindi mengatakan, kawanan burung suka berburu bulir-bulir padi muda pada waktu pagi dan sore hari. Untuk mengusir kelompok burung itu, petani membunyikan kepuaan.
Kepuaan merupakan alat terbuat dari bambu untuk mengusir burung. Alat tersebut menghasilkan bunyi-bunyian yang digerakkan dengan cara digoyang dengan tanga
“Alat ini biasanya ditaruh di sawah, kalau ada kawanan burung baru dibunyikan. Kawanan burung biasanya mencari makan waktu pagi, sore sampai sekitar pukul tujuh malam,” kata Pekak Sindi. (Way)
