KORANJURI.COM – PT Bali Turtle Island Development (BTID) menanggapi nama Pantai Serangan berubah di google map menjadi pantai Kura Kura Bali (Surf Surf by The Waves).
Head of Communication PT BTID Zakki Hakim menyatakan, pihaknya tidak merubah nama itu di google map. Sedangkan, nama yang dirujuk oleh pemberitaan yang beredar merupakan titik lokasi saat World Water Forum 2024.
“Surf Surf by the Waves itu dibuat oleh panitia penyelenggara world water forum, itu untuk kebutuhan QR Code para tamu undangan kenegaraan dan duta besar,” kata Zaki, Minggu, Rabu, 29 Januari 2025.
Zakki mengatakan, saat berlangsung World Water Forum tahun lalu, panitia membutuhkan QR Code untuk dengan titik lokasi acara menggunakan titik dari Google Map.
Menurutnya, titik tersebut mengarah di lokasi acara kegiatan dan bukan di pantai.
“Itu kan mereka 3.000 orang undangan. Jadi mereka mengirimkan QR Code itu kepada para undangan dari mancanegara,” jelas Zakki.
Namun, setelah acara berakhir, pihak panitia WWF tidak ada yang untuk mencabut titik penanda yang disematkan di Google Map.
“Biar bagaimana, Google itu kan pakai domain, siapa saja memang bisa pasang titik dan nama di situ, tapi bisa juga lapor ke google untuk mencabut titik tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan, polemik yang terjadi di pemberitaan di sejumlah media tidak benar.
“Jadi saya tegaskan Pantai Serangan tidak berubah namanya dan tetap ada di Google Map,” kata Zakki.
Ia menambahkan, BTID selalu terbuka jika ada pemangku kepentingan yang akan datang untuk meninjau Pantai Serangan, terutama yang berada di dalam KEK Kura Kura Bali.
“BTID sebagai pengelola Kura-Kura Bali menjunjung tinggi aturan dan adat istiadat Bali. Jadi jika ada masukan atau usulan hal-hal yang bisa diperbaiki atau dibikin lebih baik tentu saja kami terima,” jelas Zakki.
