Sukrada juga mengatakan, meski desanya menjadi sangat terkenal dengan jumlah penderita koloknya. Namun, beberapa tahun terakhir penduduk desa berupaya untuk menghilangkan, atau setidaknya meminimalkan jumlah penderita baru bisu tuli. Caranya, dengan mencegah perkawinan antar sesama penderita kolok.
Disamping itu, ritual keagamaan juga kerap digelar di desa Bengkala. Terlebih di tengah-tengah pusat pemerintahan desa terdapat pura besar sebagai pura desa yang membawahi puluhan banjar. Tempat persembahyangan itu menjadi pusat segala ritual keagamaan.
Dari kondisi juga terlihat, desa yang asri namun terkesan kering itu tak pernah kesusahan dalam hal pangan. Warga kolok maupun warga lainnya yang normal rata-rata mengelola hasil tanam berupa buah kelapa maupun buah-buahan seperti jeruk.
Kehidupan warga pengidap tuna rungu dan wicara itu sangat dinamis. Disitu ada kelompok Penari Janger yang rata-rata anggotanya perempuan yang mengidap kekurangan yang sama. Kelompok mereka punya jadwal berlatih dan diberi nama grup tari Janger Kolok.
Karena semua penarinya bisu-tuli, mereka tak bisa mendengar suara musik yang ditabuh untuk mengiringi tariannya. Agar gerakannya sesuai dengan alunan musik, mereka melihat aba-aba tangan dari penabuh gendang. Dengan segala keterbatasan tersebut, mereka tak bisa dianggap remeh. Hingga kini, mereka sering diundang untuk tampil di pesta hotel-hotel berbintang lima di Bali.
Karena kelebihan itulah, warga kolok di Desa Bengkala mendapat perlakuan istimewa. Mereka tidak dikucilkan, justru posisinya tetap sejajar dengan warga dengan fisik normal lainnya. Warga penyandang difabilitas diberikan kebebasan untuk tidak ikut gotong-royong hingga kewajiban memberikan iuran untuk mendukung upacara keagamaan.
Meski begitu, mereka tidak mau berdiam diri. Penderita gagu tuli ini tetap berusaha menempatkan diri seperti warga lainnya dengan selalu ikut bergotong royong.
way
