KORANJURI.COM – Persembahyangan Tawur Agung Kasanga di Catus Pata, Kota Denpasar, bukan hanya diikuti oleh warga umat Hindu saja. Namun, seorang WNA asal Rusia juga mengikuti ritual dan terlihat khusuk sepanjang prosesi acara.
Dengan mengenakan busana adat Bali lengkap dengan udeng dan perlengkapan sembahyang, Sergey Zhmakov duduk bersila di atas trotoar mengikuti arahan yang diberikan.
Dirinya baru lima bulan tinggal di Bali namun penguasaan bahasa Indonesianya cukup fasih.
“Saya suka Indonesia, sangat suka dengan tradisi dan kebudayaan kalian, ini baru pertama kali saya mengikuti ritual dan pasti tidak melewatkan pentas ogoh-ogoh nanti malam,” kata Sergey, Rabu, 18 Maret 2026.
Nyepi menurutnya sebuah tradisi yang sangat bagus dan terhubung dengan alam. Alasan itu membuatnya mengagumi kebudayaan Indonesia dan filosofinya terutama Bali.
“Filosofi kalian berada di dalam kehidupan sehari-hari. Ini pertama kalinya selama lima bulan tinggal di Bali, saya sedikit bicara bahasa,” ujarnya.
Namun, bagi Sergey, kendala bahasa itu tak membuatnya menyerah untuk melihat tradisi dan budaya Bali. Dirinya berniat mendalami bahasa Indonesia agar terintegrasi secara langsung dengan kebudayaan dan sosial masyarakat Indonesia.
“Saya ingin merasakan langsung apa yang kalian pikirkan dan rasakan dalam kehidupan ini,” ujarnya.
Suasana Nyepi, dengan kondisi lingkungan yang terbatas tanpa penerangan, internet dan tak ada kegiatan menurutnya, memberikan dampak yang bagus buat alam.
Sergey mengatakan, dirinya ingin merasakan secara penuh suasana Nyepi di Bali meskipun tinggal sendiri di sebuah vila.
“Yang pasti, malam nanti saya akan berada di sini untuk melihat ogoh-ogoh dan saya ingin merasakan ikut mengangkat ogoh-ogoh,” jelas Sergey.
Pemangku Jan Bangul Pura Agung Jagatnatha, Denpasar Ida Bagus Saskara mengatakan, ritual Tawur Agung Kasanga menjadi rangkaian upacara menjelang Hari Raya Nyepi. Prosesi acara dipimpin oleh enam Sulinggih.
Ritual Tawur Agung menggunakan sarana caru atau korban suci berupa hewan antara lain yang tertinggi, hewan kerbau.
“Dengan upacara ini diharapkan tercipta keharmonisan jagat atau dunia khususnya di kota Denpasar,” jelas Ida Bagus Saskara.
Tawur Agung Kasanga yang digelar oleh Pemerintah Kota Denpasar itu, diikuti oleh masyarakat luas. Diperkirakan umat Hindu yang hadir sebanyak 1.000 orang.
Kehadiran masyarakat dalam ritual itu umumnya untuk mendapatkan tirta atau air suci. Jenis air suci itu yakni, Tirta Luhur untuk bersembahyang kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widi Wasa.
“Lalu, tirta yang satu lagi adalah tirta caru untuk alam yang di bawah,” jelasnya. (Way)
