HUT Ke-60 SMPN 1 Selemadeg Tabanan, SMSI Paparkan Literasi Media di Era Digital

oleh
Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Tabanan menggelar workshop ' Literasi Media di Era Digital' (pembelajaran, tantangan, dan peluang) berlangsung di Aula SMPN 1 Selemadeg, Tabanan, Kamis (25/7/2024) - foto: Ist

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang perbedaan produk pers dengan media sosial (medsos) yang hanya menyampaikan informasi dan kerap tak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran.

“Tapi media pers menyampaikan berita yang sudah terkonfirmasi kebenarannya,” ujarnya.

Edo yang juga Wakil Ketua PWI Bali ini juga menegaskan perbedaan lainnya, media sosial seringkali memiliki kantor, badan hukum, pemimpin redaksi, wartawan yang kompeten dari hasil Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

“Sedangkan media sosial hanya individu yang tak punya standarisasi kewartawanan, tak punya tim redaksi, dan sumber beritanya tak jelas, bahkan bisa direkayasa. Dalam sikon seperti inilah media pers harus tampil sebagai ‘cleaning house’ atau menjadi rumah pembersih,” beber Edo.

Diungkapkan pula, berdasarkan data dari Dewan Pers, Indonesia adalah negara dengan jumlah media terbanyak di dunia. Total media di Indonesia 62.000, terbesar di dunia.

“Bayangkan, di negara kita ada 2.000 media media cetak, namun dari jumlah tersebut hanya 321 media cetak yang memenuhi syarat disebut sebagai media profesional yang akibat era digitalisasi jumlahnya makin lama makin menyusut. Terdapat 58.803 media online, tetapi yang tercatat sebagai media profesional hanya 168 media online saja. Kemudian media radio berjumlah 674 dan 523 media televisi, tidak termasuk TV streaming,” rinci Edo.

Sementara itu pemateri kedua Dosen Sastra Undiksha Dr Wayan Artika lebih berharap website dan komunitas sastra dan jurnalistik di sekolah-sekolah lebih diaktifkan untuk melatih literasi dan kemampuan menulis.