KORANJURI.COM – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bali Luh Ayu Aryani mengatakan, puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tahun ini merefleksikan bahwa keluarga menjadi penentu pembangunan di masa depan.
Menurutnya, keluarga tangguh dan mandiri akan berdampak pada banyak hal termasuk masalah kesehatan anak seperti stunting maupun gizi buruk.
Dirinya menyoroti maraknya pernikahan dini yang ada di masyarakat, juga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi banyak keluarga muda.
Apalagi, pasangan yang belum siap secara mental dalam mengarungi kehidupan berkeluarga. Ayu Aryani menekankan, pernikahan dini seharusnya bisa dicegah sejak awal.
“Pencegahan itu bisa melalui konseling, sosialisasi hingga pemeriksaan reproduksi. Karena biar bagaimana pun, kehidupan rumah tangga harus berjalan dalam kesiapan mental yang baik,” kata Ayu Suryani di Denpasar, Jumat, 11 Juli 2025.
Ketidaksiapan pasangan dalam kasus pernikahan dini juga berefek pada anak yang akan dilahirkan. Menurutnya, pernikahan bukan hanya persoalan kesepakatan dua orang untuk menjalin hidup bersama. Tapi juga menyatukan dua perbedaan yang ada.
“Kematangan itu bisa mencakup cara berpikir untuk menyelesaikan masalah, seperti masalah kesehatan, kalau pemahaman pasangan terkait kesehatan kurang baik dampaknya akan terjadi pada anak-anak yang nantinya akan dilahirkan,” jelas Aryani.
Di Bali, pada puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 digelar jalan santai di Lapangan Renon, Denpasar, Jumat, 11 Juli 2025.
Sebelumnya, lima Pataka Bangga Kencana disambut oleh Kemendukbangga/BKKBN Bali dan dikirab keliling Kota Denpasar. Acara penyambutan digelar di Lapangan Lumintang, Rabu, 25 Juni 2025 lalu.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Bali dr. Luh Gede Sukardiasih mengatakan, ada 5 quick win yang dicanangkan untuk menyambut Harganas ke-32 tahun ini. Quick Win yang pertama adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Gati), Lansia Berdaya (Sidaya) dan Super Apps Keluarga Indonesia.
“Yang kita inginkan adalah mewujudkan keluarga berkualitas tentunya dengan perencanaan yang matang,” kata Sukardiasih.
Untuk mewujudkan tujuan itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKIN Provinsi Bali menggerakan organ seperti Generasi Berencana (Genre) yang melibatkan remaja.
Para remaja itu diberikan pembekalan pemahaman sebagai penyuluh yang bersertifikat. Konselor remaja itu akan memberikan penyuluhan dan edukasi kepada sesama remaja.
“Remaja itu kecenderungannya merasa nyaman dengan teman sebayanya. Jadi konselor remaja itu menjadi agen,” kata Luh Gede Sukardiasih. (Way)
