Digitalisasi Menjadi Cara Terkini Mengabadikan Serat Lontar

oleh
Lontar serat kuno yang sudah diduplikasi dengan teknologi digitalisasi - foto: Koranjuri.com

Meski sekarang Dewa Made Darmawan terbantu dengan teknologi digitalisasi lontar menggunakan teknik guratan pena laser, namun untuk proses praproduksi tetap harus dilakukan secara manual dari memetik dan memilih daun lontar. Proses mempersiapkan media tulis daun lontar itu justru dianggap yang paling lama. Karena total waktunya bisa sampai 8 bulan. Alasannya?

“Saya biasa mengambil pelepah daun lontar di sebelah kanan. Seperti sudah saya katakan, banyak filosofi yang terkandung di dalam lontar. Sisi kanan disini menurut dresta, arah yang baik. Disamping itu, tekstur serat sisi kanan berbeda dibandingkan sisi kiri. Bagian kanan serat daunnya lebih kokoh,” jelas Dewa Made Darmawan.

Daun lontar yang bagus, menurut Dewa, posisi mengembang atau rebahnya harus 45 derajat dengan lebar daun sekitar 3,5 cm. Jika terlalu rebah atau melebihi 45 derajat, berartinya daun sudah tua dan kurang bagus untuk ditulisi. Kebalikannya, kalau posisinya masih tegak berarti daun muda. Itu juga kurang pas.

Proses untuk memoderenkan serat lontar dengan menggunakan teknologi – foto: Koranjuri.com

Setelah dipilih, kemudian daun direndam selama 2 minggu sampai air rendamannya berbau busuk. Ini dimaksudkan agar serangga atau ngengat yang masih menempel di daun bisa mati. Daun lontar bisa bertahan lama ditentukan oleh ada tidaknya serangga yang masih menempel di daun. Rayap akan membuat daun cepat rapuh dan hancur.

Proses selanjutnya adalah membersihkan daun, usai perendaman yang membutuhkan waktu selama dua pekan. Dalam proses ini, daun ditaburi obat yang disebut sindrong jangkep atau rempah-rempah yang dicampur dengan daun babakan intaran dan kulit kelapa gading.

“Perebusannya minimal 9 jam. Tujuannya, agar nantinya daun menjadi lentur dan empuk ketika ditulisi. Disamping itu juga untuk membunuh serangga yang bisa saja masih menempel di daun. Kalau menulisnya dilakukan secara manual, kita menggunakan pisau toreh kecil yang disebut pangrupak,” jelas Dewa.

Ada dua jenis pangrupak, satu berukuran mata pisau agak panjang dan satunya lagi berukuran mata pisau pendek. Perbedaannya, yang panjang untuk menulis aksara, sedangkan mata pisau pendek untuk menggambar atau melukiskan ilustrasi dalam sastra daun lontar. Sehingga, hasilnya bukan hanya terdiri dari aksara saja melainkan juga ada lukisan-lukisan tertentu yang juga digurat dalam satu bidang media tulis, ibarat cetakan sebuah buku.

Di Bali, menurut Dewa Made Darmawan, masyarakatnya banyak mempunyai lontar sakral yang disimpan di tempat pemujaan tertentu. Dari beberapa lontar sakral yang pernah diduplikasi diantaranya berjudul, Jaring Sutra, Dasa Aksara, Pangringkes, Putru Pesaji, Puja Pangastawa dan Barong Swari. Dengan telah diduplikasikannya serat sakral itu, ia berharap masyarakat yang ingin mengetahui isinya masih bisa membaca. Sementara, lontar aslinya tetap berada di tempatnya dan disakralkan oleh ahli warisnya.

“Yang paling banyak adalah lontar usadha atau pengobatan. Tapi untuk menduplikasi semuanya kami belum mampu. Disamping, banyak lontar-lontar usadha yang belum ditemukan termasuk lontar yang berisi tatanan kehidupan di Bali,” jelas Dewa.

Perawatan