KORANJURI.COM – Dari sehelai daun di kebun dan semak-semak rumah, siapa sangka bisa menembus panggung dunia?
Tiga pelajar kelas XII SMAN 7 Purworejo, Vania Anindita Nabila Maharani, Khumaira Azalia Fatikhah, dan Dewa Nasywa Puteri Surya Negara, berhasil membuktikannya.
Mereka sukses menyabet Medali Emas dan menempati posisi pertama kategori Social Science di ajang Virtual International Breakthrough Invention, Innovation & Design Exhibition (VI-BiiDE) 2026 Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, 27 Agustus 2026 lalu.
Karya berjudul ‘Ecoprint Wastra as an Eco-Friendly Innovation in Supporting SDGs’ ini mencuri perhatian juri internasional, berkat pemanfaatan flora lokal Indonesia yang melimpah namun jarang dilirik.
“Ecoprint masih sangat jarang di luar negeri. Motifnya dari daun di Indonesia itu banyak, sementara di luar negeri sedikit,” ujar Khumaira, salah satu anggota tim, Rabu, 30 September 2026.
Perjalanan mereka menuju podium juara di Malaysia tidak diraih dengan mudah. Di tengah persiapan kompetisi, ketiganya dihadapkan pada dilema besar karena sudah duduk di bangku kelas XII yang harus bersiap menghadapi agenda akademik penting, seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Awalnya kami mantap maju, tapi di pertengahan karena sudah kelas XII ada TKA. Kalau misalnya lolos, diundang ke sana dan tabrakan dengan jadwal TKA bagaimana,” kenang Dewa.
Namun, berkat dukungan penuh dari pihak sekolah dan orang tua, mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan langkah hingga akhirnya berbuah manis di negeri jiran.
Kepala SMAN 7 Purworejo, Hari Peni S. Pamedar, S.Si., M.Pd., M.Eng., turut menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas prestasi membanggakan ini.
Capaian tersebut sekaligus menjadi wujud nyata penerapan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di sekolah.
“Kini, daun-daun di sekitar kita bukan lagi sekadar sampah organik biasa, melainkan simbol kreativitas anak bangsa yang membuktikan bahwa inovasi sederhana dari Indonesia mampu mendunia,” ujar Hari Peni S. Pamedar. (Jon)
