KORANJURI.COM – Bank Indonesia mendesak kalangan perbankan mempercepat penurunan suku bunga sejalan dengan pemangkasan BI Rate, dari 5.00 menjadi 4.75 basis poin, pada 17 September 2025.
Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, sepanjang satu tahun terakhir, suku bunga acuan Bank Indonesia sudah turun 125 basis poin.
“Jadi cukup besar penurunannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini juga sudah tercermin pada perkembangan suku bunga pasar uang antar bank yang sudah turun dari level 6% ke level 4%,” kata Erwin dalam paparan Balinomics, Jumat, 17 Oktober 2025.
Bank Indonesia melihat, kalangan Perbankan saat ini dalam posisi wait and see. Namun, melalui kebijakan makro prudential Bank Indonesia, penurunan suku bunga acuan dapat ditransmisikan secara cepat.
Erwin mengungkapkan, data agregat deposito dalam satu bulan baru turun tipis sekitar 16 basis poin. Suku bunga kredit juga masih lambat di level 10 hingga 7 basis poin.
“Jadi kalau dari suku bunga deposito satu bulan, di sini sudah turun dari 4,81 ke 4,65%, sudah turun namun penurunannya belum cepat,” ujarnya.
Bank Indonesia juga melihat, penyesuaian suku bunga oleh perbankan itu juga masih ditandai banyaknya program special rate yang ditawarkan oleh lembaga sistem keuangan perbankan.
“Spesial rate ini tentunya bisa menghambat laju penurunan suku bunga lebih lanjut, karena cukup besar komposisinya di dalam menampung dana pihak ketiga,” kata Erwin.
Melalui kebijakan penurunan suku bunga acuan, Erwin berharap, sektor perbankan lebih cepat menggarap sektor potensial melalui kucuran kredit perbankan.
“Mudah-mudahan penurunan suku bunga terus berlanjut dan persyaratan kredit juga lebih lenient untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat,” jelas Erwin Soeriadimadja.
Dalam rentang Juni-September 2025, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan masing-masing, pada 18 Juni 2025 di angka 5,50%, 16 Juli 2025 menjadi 5,25%, 20 Agustus 2025 turun menjadi 5,00% dan 17 September 2025 di angka 4,75.
Sementara, outlook pertumbuhan ekonomi di Bali hingga Desember 2025, Bank Indonesia memperkirakan tetap ada pertumbuhan positif di angka 5,5 hingga 5,8%
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Butet Linda Helena Panjaitan mengatakan, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan ketiga terindikasi masih kuat.
Dari survei yang dilakukan Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali, pelaku usaha masih melakukan ekspansi terutama dari bangunan.
“Pelaku usaha masih melakukan ekspansi terutama dari bangunan, ini terlihat dari penjualan semen tetap tinggi,” kata Linda.
Indikasi lain juga terlihat dari akselerasi investasi proyek strategis nasional yang ada di Bali. Termasuk, penguatan strategi pariwisata berkualitas, peningkatan produktifitas sektor pertanian dan digitalisasi sistem pembayaran. (Way)
