KORANJURI.COM – Salah satu dari tiga calon kepala desa Wonorejo, Jatiyoso, Karanganyar, Jateng, yaitu Giyono (50), berkesempatan tampil dalam penyampaian visi dan misi kemarin Senin (18/02). Bertempat di gedung Serba Guna di dusun Blanten, Giyono memaparkan visi dan misinya dengan tegas namun tetap santun.
Di awal pemaparannya, ia menegaskan modal utama ia maju mengikuti pilkades desa Wonorejo (2019-2025) adalah kejujuran.
“Menurut saya, pemerintahan desa yang dipimpin oleh orang jujur, tentu akan berimbas positif bagi warga dan pembangunan desa secara umum,” ujar Giyono.
Ditegaskannya, peran serta warga desa secara bersama adalah kunci utama keberhasilan pembangunan desa. Sehingga sesuai dengan visi misinya, jika nanti ia terpilih menjadi kades Wonorejo, hal pertama adalah merangkul semua masyarakat desa untuk mau membangun bersama.
Hanya dengan pemimpin yang benar-benar jujur dan amanah masyarakat bisa bergerak dengan iklas.
Dengan keiklasan semua warga, serta kebersamaan yang terjalin niscaya bisa membangun desa menjadi semakin maju.
Pemerintahan desa yang lebih bermartabat dan bebas dari korupsi serta kolusi, menjadi jaminan jika pemimpinya memiliki integritas kejujuran yang tinggi. Meskipun hal tersebut bukan perkara mudah, namun juga bukan hal yang tidak mungkin bisa dilakukan.
“Di bidang kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan, dan papan, saya nanti akan berusaha memenuhi kebutuhan warga tanpa diskriminasi apapun,” tegasnya.
Artinya, semua proyek atau program yang berhubungan dengan pemenuhan kualitas kebutuhan warga, akan dilaksanakan dengan adil, transparan, dan tanpa membeda-bedakan status warga.
Apakah ia mempunyai hubungan famili dengan perangkat desa, atau apakah warga tersebut mempunyai agama yang berbeda, semua akan diperlakukan sama sesuai dengan haknya masing-masing.
Selain kebutuhan primer, tentu kebutuhan sekunder warga juga akan diperhatikan. Seperti misalnya kebutuhan akan peningkatan pendidikan, kesehatan dan hiburan.
Peningkatan kualitas hidup warga, harus bebas dari kepentingan pribadi apalagi dalam bentuk korupsi dan kolusi. Karena hal-hal negatif seperti itulah yang merupakan bahaya laten. Artinya sewaktu-waktu bisa merusak sendi-sendi pembangunan itu sendiri.
Sementara di bidang pemerintahan, ia mempunyai visi akan meningkatkan fungsi masing-masing perangkat sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Sehingga dana desa yang ada bisa tergarap dengan optimal.
Bahkan sekaligus bisa mengoptimalkan perolehan dana desa dari sumber-sumber yang ada. Misalnya dengan mengoptimalkan PBB. Sehingga hak dan kewajiban warga desa bisa terpenuhi dengan imbang.
“Untuk masalah Infrastruktur, saya dan perangkat pemdes lain akan meningkatkan kualitas dan pemerataannya secara menyeluruh hingga ke setiap sudut desa. Bahkan wilayah desa yang paling terpencil sekalipun,” sambungnya lagi diselingi yel-yel dari pendukungnya.
Dalam segi kualitas kesehatan, tentu perlu memikirkan dan mewujudkan sebuah kondisi kesehatan yang standart bagi warga desa. Untuk mencapai nilai standart kesehatan tersebut, maka akses kesehatan masyarakat wajib dipermudah seperti, layanan pembuatan kartu kesehatan seperti Askes, BPJS, KIS, atau apapun akses kesehatan sesuai dengan program pemerintah pusat dan daerah.
Di bidang spiritual atau keagamaan, akan meningkatkan kualitas di segala umur. Bisa dengan kegiatan sosial keagamaan di masjid-masjid, pengajian rutin di rumah-rumah warga, dan kegiatan sejenis lain.
Tentu saja, semua itu perlu dukungan penuh dari pemerintah desa, baik dukungan secara anggaran ataupun dukungan moral.
Untuk masalah pendidikan, pemerintah desa juga wajib membantu warga yang kurang mampu. Sehingga akses pendidikan mutlak merupakan hak dan milik semua warga tanpa kecuali. Dan sekali lagi, untuk mencapai hal tersebut diperlukan modal kejujuran dari semua pemimpin dan perangkat desa yang ada. Sehingga jangan sampai sedikitpun terjadi kolusi atau korupsi, baik skala kecil atau besar.
Bila perlu pemberdayaan lembaga masyarakat juga bisa digandeng untuk membantu hal-hal tersebut. Sehingga semakin lama semua pihak bisa mencintai pembangunan yang digarap dengan penuh kejujuran dan tanggung-jawab.
“Intinya mulai sekarang desa Wonorejo harus berubah. Berubah ke arah yang lebih baik dari yang selama ini kita alami dan kita rasakan bersama,” katanya sebelum menutup orasi.
Di akhir penutupan, Giyono menyatakan siap diberhentikan kapan pun, jika ternyata nanti saat memimpin ternyata ia tidak amanah sesuai dengan janjinya selama ini. Karena janjinya tersebut langsung kepada Tuhan YME. Untuk itu ia memohon dukungan dari warga untuk memilih dirinya di urutan nomer 3. (Med/Mul)
