KORANJURI.COM – Arini Fadhilah, S.Pd., guru penggerak angkatan 6 dari SMK Kesehatan Purworejo, melakukan aksi nyata dengan penyampaian materi modul 1.4, tentang penerapan budaya positif di sekolah, Selasa (15/11/2022).
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMK Kesehatan Purworejo Nuryadin, S.Sos., M.Pd., dengan peserta seluruh guru dan karyawan.
Menurut Arini, isi dari aksi nyata tersebut, memberikan edukasi kepada guru-guru SMK Kesehatan Purworejo mengenai budaya positif di sekolah, khususnya disiplin positif serta lingkungan belajar yang positif. Juga disampaikan perbedaan hukuman dan konsekuensi, perbedaan antara kesepakatan kelas dan keyakinan kelas, kemudian ada 5 posisi kontrol guru.
“Yaitu guru bisa menjadi seorang penghukum, bisa menjadi seorang pemantau, bisa menjadi seorang teman, bisa menjadi seorang pembuat merasa bersalah, dan juga seorang manajer,” ujar Arini, di sela kegiatan.
Jadi, kata Arini, seharusnya guru itu menjadikan posisi mereka di sekolah sebagai posisi manager, yaitu membantu siswa atau memfasilitasi siswa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi siswa diberikan fasilitas oleh guru, diberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kemudian, terang Arini, ada yang namanya segitiga restitusi. Segitiga restitusi dirancang oleh guru untuk menyelesaikan masalah siswa dengan cara menstabilkan identitas, kemudian mengembalikan keyakinan dan juga memberikan solusi yang tepat untuk siswa ketika mereka mengalami masalah di sekolah.
“Jadi tujuan dari aksi nyata ini di modul 1.4 tentang budaya positif, memberikan pandangan baru bahwa yang bertindak menyelesaikan masalah sebenarnya bukan hanya guru BK, tetapi seluruh guru yang ada di sekolah,” ungkap Arini.
Jadi seluruh guru harus memiliki kemampuan restitusi kepada siswanya agar bisa menyelesaikan masalah, karena masalah yang muncul di kelas itu berawal dari guru mata pelajaran, kemudian nanti baru naik ke BK, baru naik ke kesiswaan, baru ke waka dan baru ke kepala sekolah jadi urutan restitusinya seperti itu.
“Jadi kalau guru mata pelajaran bisa menyelesaikan, maka masalah cukup sampai di guru mata pelajaran saja,” kata Arini.
Dengan dilakukannya aksi nyata guru penggerak ini, Arini berharap guru-guru SMK Kesehatan Purworejo mampu merestitusi siswa dengan lebih baik, menjadi seorang manajer yang baik, sehingga membuat lingkungan SMK Kesehatan Purworejo memiliki budaya positif yang lebih baik.
“Tentu saja ketika ada masalah yang timbul, maka gurunya bisa dengan cepat menjadi seorang manajer yang menyelesaikan masalah,” ujar Arini.
Selaku Kepala Sekolah, Nuryadin merasa senang dan bangga atas aksi nyata guru penggerak Arini Fadilah, yang merupakan guru SMK Kesehatan Purworejo. Lolosnya Arini menjadi guru penggerak, menjadi prestasi tersendiri bagi yang bersangkutan dan sekolah.
Nuryadin berharap, dengan adanya aksi nyata ini akan menambah wawasan lagi buat bapak ibu guru dan karyawan, sehingga pada akhirnya kualitas kegiatan belajar di SMK Kesehatan Purworejo tambah baik lagi. Dengan lolosnya Arini sebagai guru penggerak, juga memotivasi kepada guru-guru yang lain juga untuk belajar lebih baik lagi.
“Sehingga nanti kalau ada lagi seleksi guru penggerak diharapkan bisa mendaftar dan lolos. Kalau nanti guru-guru kita banyak yang lolos sebagai guru penggerak, otomatis sekolah akan maju, tampil profesional yang pada akhirnya juga akan mendorong para warga di Purworejo untuk mendaftarkan putra-putrinya di SMK ini karena guru-gurunya berkualitas,” pungkas Nuryadin. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS
