KORANJURI.COM – Bali kembali dinobatkan sebagai pulau terbaik dunia 2025 dan berada di posisi ketiga dunia versi Travel+Leisure (T+L) .
Pembaca situs perjalanan yang berbasis di New York, Amerika Serikat itu, menempatkan Pulau Bali di peringkat ketiga dunia dari 25 pulau di dunia.
Posisi itu jauh mengatasi kompetitor Bali, Phuket dan Koh Samui Thailand yang berada di urutan kedua belas dan empat belas.
Bali sekaligus sebagai satu-satunya pulau yang masuk dalam daftar selama 11 tahun berturut-turut.
Narasi positif menyebut Bali sebagai pulau yang selalu populer. Dikenal karena budaya dan agamanya yang unik dengan lebih dari 10.000 pura, dan tempat menginap yang luar biasa.
Termasuk, Anantara Ubud Bali Resort yang baru-baru ini masuk dalam Daftar Pilihan T+L.
“Penghargaan Hall of Fame WBA dengan skor pembaca 93,25,” tulis T+L untuk Pulau Bali.
Pulau-pulau favorit pembaca Travel+Leisure untuk tahun 2025 mewakili beragam benua, budaya, dan iklim.
Termasuk, terumbu karang warna-warni, pantai tropis dengan bebatuan yang terkikis oleh air, hutan beriklim sedang, dan pegunungan bersemak yang dijemur matahari
“Beberapa pulau dan kepulauan dengan suara terbanyak merupakan destinasi yang menonjol di wilayahnya masing-masing.”
Meskipun relatif kecil, Bali memiliki banyak sisi. Dalam satu perjalanan, wisatawan dapat mengunjungi area tepi laut seperti Uluwatu dan Seminyak.
Serta pegunungan dan hamparan sawah di pedalaman.
Spirit Tri Hita Karana Mengaliri Subak
Perayaan budaya yang hidup dari tanah, air, dan semangat masyarakatnya itu hidup dan lestari di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali.
Setelah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia di tahun 2012, desa Jatiluwih juga mendapat predikat desa terbaik dunia dari UN Tourism di tahun 2024.
Kehidupan masyarakat sekitar digambarkan dalam sekelumit festival Jatiluwih yang menjadi atraksi wisata untuk para wisatawan.
Budaya subak mengalir di persawahan yang sarat akan filosofi hidup Tri Hita Karana atau keseimbangan manusia, alam dan spiritualitas.
“Kami ingin membangun harapan dari akar kami sendiri,” kata Kepala Pengelola DTW Jatiluwih John Ketut Purna.
Festival di Jatiluwih bukan hanya ajakan untuk datang, tapi seruan untuk ikut menjaga masa depan Bali. Dimulai dari desa-desa yang setia merawat nilai kultur dan kearifan lokal masyarakat setempat. (Way)
