Wisatawan Masuk Bali Harus Steril Covid-19

    


Direktur Lalu Lintas Keimigrasian Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham Cucu Koswala bertemu Kadis Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa, Jumat, 24 Juli 2020 - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sinkronisasi kebijakan dilakukan sebelum memulihkan aktifitas pariwisata Bali pada September mendatang. Kesesuaian regulasi untuk mengantisipasi kondisi Bali agar tetap aman dari penambahan covid-19.

Membahas hal itu, Direktur Lalu Lintas Keimigrasian Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham Cucu Koswala, bertemu Kadis Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa, Jumat, 24 Juli 2020.

“Jika nanti pariwisata Bali dibuka untuk wisatawan mancanegara, justru Bali menjadi episentrum baru penyebaran covid-19,” kata Cucu Koswala di Denpasar, Jumat, 24 Juli 2020.

Selain itu, soal visa dan penerbangan, pemerintah pusat akan mempertimbangkan kembali kebijakan bebas visa kunjungan dan memberlakukan VOA dengan persyaratan khusus. Hal itu, kata Cucu, dilakukan dengan tujuan untuk melakukan filter terhadap wisatawan yang akan berkunjung ke Bali.

“Wisatawan yang datang ke Bali, harus sudah bebas Covid-19, jangan sampai ada wisatawan carrier masuk ke Bali,” tambahnya.

Kadisparda Provinsi Bali, Putu Astawa mengatakan, Surat Edaran Gubernur Bali nomor 3335 tahun 2020 tentang Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru jadi protokol dibukanya kembali aktifitas pariwisata.

Protokol itu salah satunya mewajibkan pelaku pariwisata mengantongi sertifikat verifikasi. Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali juga mengeluarkan, persyaratan wisatawan yang akan berkunjung ke Bali. Wisatawan yang berkunjung ke Bali diwajibkan menunjukkan sertifikat bebas Covid-19 melaui uji PCR.

Wisatawan juga diwajibkan melakukan pendaftaran melalui aplikasi cek diri. Sehingga, rekam jejak wisatawan lebih mudah diketahui.

“Program itu dilakukan agar masyarakat Bali yang tergantung dari sektor pariwisata bisa bangkit lagi dan tetap aman dari wabah Covid-19,” kata Astawa. (Way/*)