Ubud Writers & Readers Festival Tahun Ke-21 Digelar Oktober 2024

oleh
Ubud Writers & Readers Festival - foto: doc. Media UWRF

KORANJURI.COM – Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2024 akan kembali tahun ini pada 23-27 Oktober 2024. Festival sastra paling berpengaruh di Asia Tenggara, menampilkan para penulis, penyair, dan dramawan terkemuka.

Tahun ke-21 penyelenggaraan UWRF mengangkat tema ‘Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness’.

Tema tersebut terkait konsep filosofis Hindu Bali ‘Tri Pramana’ atau tiga kekuatan dalam diri manusia, yakni Bayu (angin), Sabda (ucapan), dan Idep (pikiran) yang mewakili kemampuan untuk hidup, berbicara, dan berpikir.

Pendiri dan Direktur UWRF Janet DeNeefe mengatakan, tema tersebut mengeksplorasi karya para penulis yang telah menciptakan perbedaan di dunia sastra masa kini.

“Dunia di mana kata-kata adalah senjata, kita dibawa untuk merefleksikan pengaruh dan pentingnya sastra di tengah pesatnya kemajuan teknologi, persebaran informasi, dan kejadian-kejadian terkini berdasarkan prinsip kebenaran dan kejujuran,” kata Janet dalam keterangan tertulis, Sabtu, 6 April 2024.

Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai penyelenggara tahun ini menggandeng Australasia Association of Writing Programs (AAWP).

Para penulis Australasia diundang untuk mengikuti perjalanan ke UWRF 2024 yang diselenggarakan di Ubud, Gianyar, Bali.

“Mereka diundang untuk mengirimkan karyanya ke ‘Emerging Writers’ Prizes of Prose and Poetry’ dan penerjemah di semua tahap karir dapat mengirimkan karyanya ke Translators’ Prize, paling lambat 30 Juni 2024,” jelasnya.

Ida Lawrence, seniman visual Australia-Indonesia hadir memberikan penajaman terhadap tema yang diangkat. Karya-karyanya dikenal dengan gaya khas dalam memadukan cerita dan lukisan.

Ida menciptakan komposisi buku yang membentuk huruf-huruf yang menggambarkan tema dalam bahasa Sansekerta, dengan rangkaian warna, tekstur, dan pola yang cerah.

“Saya melihat huruf-huruf yang menggambarkan tema dalam bahasa Sansekerta dan menyadari bahwa huruf-huruf tersebut adalah buku,” kata Ida Lawrence.

Sejak tahun 2018, festival kata-kata ini telah melahirkan ratusan penulis baru dan mapan. (Way)

KORANJURI.com di Google News