Tradisi Sakral Jumenengan Kraton Surakarta

    

Ada 9 Penari Bedhaya Ketawang dan Penari Kesepuluhnya adalah…

Lampah laku upacara pemberian gelar ningrat, yang bertepatan dengan upacara Jumenengan di Kraton Kasunanan Surakarta - foto: Djoko Judiantoro/Koranjuri.com

Lampah laku upacara pemberian gelar ningrat, yang bertepatan dengan upacara Jumenengan di Kraton Kasunanan Surakarta – foto: Djoko Judiantoro/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Upacara Jumenengan adalah tradisi dalam rangka memperingati naiknya tahta seorang raja yang digelar setiap tahun di kraton-kraton pecahan kerajaan Mataram. Bagi Kraton, upacara Jumenengan menjadi salah satu prosesi upacara paling sakral. Mengingat pada saat prosesi tersebut digelar, berbagai macam ritual menyatu menjadi satu rangkaian upacara adat.

Selain itu, pada saat upacara tradisi ini dilakukan, dipercaya gaib nusantara ikut menghadiri jalannya prosesi. Termasuk, Kanjeng Ratu Kidul yang secara metafisik spiritual punya kedekatan dengan Kraton besar pecahan Mataram, Yogyakarta dan Surakarta. Karenanya di puncak upacara adat Jumenengan selalu digelar tari Bedaya Ketawang. Tarian yang terdiri dari sembilan penari perempuan itu diyakini salah satunya adalah Kanjeng Ratu Pantai Selatan dalam wujud tak kasat mata.

TERKAIT
» Kraton Solo Gelar Tingalan Jumenengan Dalem PB XIII
» Kraton Surakarta Berikan Gelar KRT-KMT Kepada Bupati Rote Ndao dan Istri

Dalam kamus Wikipedia disebutkan, menurut kepercayaan, setiap Tari Bedhaya Ketawang ini dipertunjukkan maka dipercaya Kanjeng Ratu Kidul akan hadir dalam upacara dan ikut menari sebagai penari ke sepuluh.



    





News

BERITA PILIHAN

    

Kembali ke Atas