Tahun Pendaftaran CPNS, Jimat Ramai Dijujug

oleh
Foto: Ilustrasi

KORANJURI.COM – Musim penerimaan CPNS tahun 2019 sudah dibuka sejak tanggal 11 November 2019 sampai dengan selesai. Berbagai proses tahapan harus di lalui para CPNS, dari mulai melakukan registerasi pendaftaran, seleksi administrasi, sampai dengan test kemampuan intelektual dan kebangsaan.

Berbagai cara di tempuh agar peserta calon pegawai negeri sipil lulus test di terima menjadi aparatur sipil negara. Terbukti tak sedikit mereka tergiur bujuk rayu oknum yang mengaku mampu memuluskan test. Meski hal itu sebenarnya modus untuk melakukan penipuan.

Menjadi Aparatur Sipil Negara memang menjadi cita cita banyak orang, karena menjanjikan kesejahteraan hidup di masa depan. Akan tetapi sulitnya lulus pada proses seleksi, membuat banyak CPNS gugur di tengah jalan. Jumlah kompetitor dalam setiap formasi juga tidak berimbang dengan kebutuhan kuota ASN yang harus di penuhi. Oleh karena itu banyak calon CPNS akhirnya menempuh berbagai cara, agar seluruh proses tahapan seleksi yang ia lalui dapat berhasil dan di terima menjadi aparatur sipil negara.

Berbagai cara tersebut diantaranya memakai jimat atau menjalani laku di sebuah tempat keramat, dengan harapan agar dimudahkan pada proses seleksi test CPNS. Untuk menyingkap lebih jauh fenomena penggunaan jimat pada waktu test CPNS, secara khusus koranjuri.com mewawancarai tokoh spiritual asal kota gudeg Jogjakarta, Aryo Jati Al Dzat atau yang akrab dipanggil Gus Aryo.

Keterangan foto:Gus Aryo saat melakukan deteksi energi di tempuran krincing gunung lawu./foto:koranjuri
Keterangan foto:Gus Aryo saat melakukan deteksi energi di tempuran krincing gunung lawu./foto:koranjuri

Bagaimana menurut anda fenomena memakai jimat dalam test CPNS tahun 2019 ini ?

Setiap kali proses seleksi test CPNS, fenomena tersebut selalu ada. Karena lazim dalam budaya masyarakat kita, khususnya di jawa. Penggunaan jimat juga tidak dilarang, selama niat permohonan kita hanya kepada Allah SWT. Jimat tidak hanya berupa benda, tetapi amalan amalan sebenarnya juga masuk kategori jimat meski secara umum pemahaman jimat di masyarakat lebih kepada benda yang di khususkan pemanfaatanya.

Secara umum jimat memang tidak bisa membuat seseorang lulus  test CPNS, tetapi paling tidak mampu membangkitkan sugesti bagi orang yang memakainya. Sehingga secara psikologis keyakinan orang itu akan bertambah dan merasa yakin dengan kemampuanya. Dengan merasa yakin maka akan mudah menjawab segala pertanyaan dakam test seleksi. Apalagi test seleksi CPNS lebih banyak bersifat intelektualitas, integritas dan kepribadian.

Memakai jimat tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga lazim di tengah masyarakat. Bahkan raja raja dan para wali jaman dulu juga memiliki jimat tetapi dalam wujud sebuah benda pusaka seperti keris. Meski di akui pusaka tersebut sebenarnya hanya sebatas ageman atau simbol bagi diri sang pemiliknya.

Sebagai contoh Panglima besar Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro dan para pahlawan revolusi lainya, mereka juga memiliki jimat pegangan berupa keris pusaka. Hanya saja pehamaman masyarakat secara umum, jimat di identikan benda berupa batu akik, kertas atau kain rajah lafad arab, rajah aksara jawa, cundrik dan benda benda lainya.

Lantas bagaimana perbedaan memakai jimat dan ritual di tempat keramat pada fenomena seleksi CPNS ?

Keduanya sebenarnya tidak jauh beda, karena muaranya sama berharap bisa lulus tes CPNS. Tetapi proses usahanya yang berbeda. Memakai jimat kerap di indentikan cara instan, karena meminta pegangan pada orang yang dianggap linuwih.

Keterangan foto: Gus Aryo dan istrinya./ foto:koranjuri
Keterangan foto: Gus Aryo dan istrinya./ foto:koranjuri

Sedangkan menjalani laku prihatin di sebuah tempat keramat butuh proses dan tidak semua orang kuat menjalaninya. Meski proses tersebut juga bisa dilakukan melalui perantara seseorang yang di anggap memiliki linuwih atau orang tua yang menjalani laku prihatin untuk kesuksesan anaknya.

Proses terakhir ini, orang tua yang mendoakan anaknya agar dimudahkan segalanya dengan cara laku prihatin lebih afdol tidak hanya dalam sudut pandang agama, tetapi dalam tatanan adat tradisi merupakan budaya luhur bangsa ini.

Usaha adalah syaringat yang harus kita lakukan, akan tetapi usaha juga harus di barengi dengan doa sebagai hakikat guna mencari ridho Allah. Agar apa yang menjadi hajad hajad kita di kabulkan. Sebab sekuat apapun usaha kita jika Allah tidak meridhoi, maka kandaslah hajad kita. Maka dari itu usaha dan doa harus berjalan beriringan.

Tokoh spiritual yang kerap di mintai nasehat saat musim CPNS ini memaparkan, menjalani ritual di tempat keramat bukan berarti meminta kepada orang yang sudah mati, tetapi kita memohon kepada Allah agar berkah pahala di dalam membaca sholawat, dzikir, tahlil dan bacaan ayat ayat suci, senantiasa di sampaikan kepada orang yang kita ziarahi. Dari proses ini kita ngalap berkah memohon doa dan ridho Allah agar hajad kita di kabulkan.

Lantas kenapa orang yang menjalani laku prihatin harus ke tempat keramat ?

Bagaimanapun tidak ada orang yang menjalani laku prihatin di mall atau di tempat yang bukan semestinya. Karena secara spiritual tempat keramat memiliki energi positif yang dapat kita manfaatkan untuk laku prihatin. Meski kita akui di manapun tempat sebenarnya bisa di pakai untuk berdoa memohon kepada Allah SWT, asalkan bukan tempat yang najis dan di larang dalam syariat. Berdoa dan menjalani laku di sebuah tempat keramat selain suasananya tenang, kita juga lebih fokus dan khusyuk. Selain itu nunggak semi wohing jati,  membangun dan menumbuhkan kembali apa yang sudah di capai para leluhur di masa silam.

Seperti para pejabat yang ingin cepat naik pangkat derajat, mereka lebih banyak menjalani laku ritual di Kahyangan, Tirtomoyo atau kungkum di tempuran krincing tempat bertemunya aliran air dari gunung lawu dan pringgondani.

Di karenakan tempat tersebut jaman dulu menjadi tempat laku ritual penembahan Senopati dan Sinuhun PB X. Sehingga di harapkan wahyu kederajatan dapat di raih tutup Gus Aryo kepada koranjuri./ Jk.

KORANJURI.com di Google News