Si Gombrong Kintamani dari Desa Sukawana

oleh
Dari Desa Sukawani, Kintamani, Bangli, anjing lokal pegunungan yang popular dengan anjing Kintamani ini berkembangbiak, kemudian menyebar dan akhirnya menjadi anjing ras pertama di Indonesia yang diakui dunia - foto: Wahyu Siswadi/Koranjuri.com

Dalam setahun, ras unggul ini mampu bereproduksi sebanyak dua kali. Dalam setiap kali kelahiran, sedikitnya akan lahir tiga ekor anak anjing. Disitulah, seorang warga yang lain bernama Ni Wayan Nadi dan putrinya menyeleksi anak anjing yang dianggap paling bagus.

“Kami memang membiasakan memberi makan ketela, selain daging bakso sapi sehari dua kali. Tapi, dalam setiap harinya ketela harus ada. Itu untuk menjadikan bulunya halus dan lembut,” terang Nadi.

Dengan pola makan seperti itu, ibu yang juga berprofesi sebagai peladang jeruk Kintamani ini, pernah menjual anjing Kintamani miliknya seharga Rp 5 juta berumur kurang dari satu tahun. Melestarikan anjing Kintamani bagi warga desa Sukawana juga suatu keharusan.

Di dusun yang berada di kaki Gunung Batur tersebut, ada suatu tradisi yang namanya sapu-sapu. Tradisi ini dilakukan sebagai upaya memberikan kesejahteraan dan keselamatan bagi desa yang tengah dirundung musibah.
 
 
Way

KORANJURI.com di Google News