RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo Lakukan Survei Simulasi Akreditasi

oleh
Suasana survei simulasi akreditasi, yang dilakukan surveior KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit), di RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo, dari Senin (3/12) hingga Jum'at (7/12) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Selama lima hari, dari Senin (3/12) hingga Jum’at (7/12), RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo melakukan survei simulasi akreditasi. Survei ini dilaksanakan, dalam rangka persiapan akreditasi SNARS Edisi 1.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kesiapan sekaligus memberikan gambaran kepada RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo untuk melaksanakan Akreditasi SNARS Edisi 1.

“SNARS Edisi 1 merupakan standar akreditasi baru yang bersifat nasional dan diberlakukan secara menyeluruh di Indonesia,” jelas Leli Dewi Pramudyani, Humas RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo, Sabtu (8/12).

Menurut Leli, mewakili Direktur RSUD Dr. Tjitrowardojo Purworejo, drg. Gustanul Arifin, M.Kes, survei simulasi ini memiliki manfaat penting bagi Rumah Sakit untuk mengukur kesiapan RS dalam menghadapi Survei Akreditasi yang sesungguhnya, melengkapi hal yang dirasa perlu dipenuhi untuk lulus dalam akreditasi mendatang.

Dalam survey ini, kata Leli, para surveior KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dibagi menjadi tiga bidang tugas yakni, Manajemen (dr. Yawestri Pudjiati Giningrum, MARS, MARS dan Drs. Masrial Mahyudin, Apt., MM, PIA),
Medis (dr. Zaenal Abiding, Sp. THT. dan dr. Anggreni, Sp.THT, MARS),
Keperawatan (Christina Sinaga, S.Kep, M.Kep. dan Purwo Atmanto, S.Kep, Ns., MPH).

Selama lima hari survei, kegiatan diawali dengan presentasi oleh Direktur tentang Profil RS, pelayanan RS dan peningkatan mutu dan keselamatan pasien serta program nasional, serta telaah regulasi dan dokumen oleh para Surveior kepada setiap Pokja.

“Pihak RS diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi hasil telaah dan hasil telusur oleh Surveior tersebut. Setelah itu, dilanjutkan dengan wawancara pemilik/representasi pemilik dan Direktur RS mengenai mutu dan keselamatan, etika dan budaya keselamatan pasien, serta etika penelitian dengan subyek manusia,” ungkap Leli.

Selain itu, juga ada kegiatan simulasi Code Red (kebakaran), wawancara dengan Pimpinan Institusi Pendidikan Staf Klinis, wawancara dengan mahasiswa staf klinis (Surveior memilih secara acak mahasiswa/residen yang di wawancara). Dilakukan juga wawancara pada pasien untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien.

Di hari terakhir, jelas Leli, dilakukan pula simulasi Code Blue, Exit Conference dan ditutup dengan sesi foto bersama Tim Surveior beserta Jajaran Direksi, Pejabat Struktural, Koordinator dan Sekretaris Bab/Pokja serta tamu undangan.

“Kita berharap nantinya bisa Terakreditasi Paripurna. Walaupun bukan menjadi tujuan utama, namun dengan Akreditasi Paripurna mendorong, memberikan semangat kita memberikan pelayanan lebih baik, bermutu dan bisa dipertanggungjawabkan,” pungkas Leli. (Jon)

KORANJURI.com di Google News