Polisi Bongkar Mafia Tanah, Korban Rugi Rp 6 Miliar

    


Subdit 2 Harda Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap kasus pemalsuan Akta otentik (SHM). Pelaku berjumlah 10 orang dan masuk dalam sindikat mafia tanah - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Subdit 2 Harda Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap kasus pemalsuan Akta otentik (SHM). Pelaku berjumlah 10 orang dan masuk dalam sindikat mafia tanah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan, tindakan kejahatan itu menimbulkan kerugian Rp 6 milyar. Korban bernama Christina Anastasia Sediati.

“Korban memiliki tanah di Jalan Pulo Asem Utara II No. 1 Jati, Pulogadung, Jakarta Timur, seluas 4.27 M2. Keabsahannya dibuktikan dengan SHM No. 4633/Jati, sejak tahun 1964,” kata Yusri Yunus di Jakarta, Kamis, 3 Desember 2020.

Pada tahun 2009 sertifikat dipinjam oleh pelaku PA dan MSM untuk dijadikan agunan modal usaha di Bank Mandiri. Pelaku menjanjikan korban untuk merenovasi rumahnya. Tapi janji itu tidak terlaksana dan justru terjadi kredit macet senilai Rp 2 milyar.

Yusri menjelaskan, setelah terjadi kredit macet, MSM bersama AYS, datang menawarkan korban untuk menembus sertifikat itu dan menjanjikan akan memberikan uang sebesar Rp 100 juta. Pelaku juga memberikan syarat lain, sertifikat tersebut nantinya dapat dipinjam kembali selama 3 bulan.

Yusri menambahkan, korban menyetujui penawaran tersebut. Kemudian di bulan Juni 2016, korban kembali didatangi pihak Bank UOB. Disitu diketahui sertifikat milik korban telah beralih kepemilikan menjadi atas nama HG dan sedang diagunkan di Bank UOB senilai Rp 6 milyar.

“Faktanya, korban tidak pernah mengalihkan kepemilikan terhadap SHM No. 4633/Jati dan atau atau menandatangani apapun terkait peralihan kepemilikan,” kata Yusri.

“Satu tersangka AYS sedang menjalani masa hukuman di Lapas Cipinang dalam perkara lain,” tambahnya. (Bob)