Pengajian Gus Miftah di Kiyangkongrejo Ditunda

    


Yanuar Arifin, atau yang akrab disapa Yayan (kanan), saat menyampaikan penundaan pelaksanaan acara 'Ngopi Bareng Gus Miftah', Minggu (04/10/2020) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pelaksanaan pengajian Gus Miftah, yang dikemas dalam acara ‘Ngopi Bareng Gus Miftah’ di Desa Kiyangkongrejo, Kutoarjo, Purworejo, yang rencananya akan dilaksanakan pada Sabtu malam (10/10/2020) sekitar jam 20.00 WIB, akhirnya ditunda.

Penundaan ini disampaikan oleh Yanuar Arifin, atau yang akrab disapa Yayan, selaku penyelenggara, Minggu (04/10/2020).

Menurut Yayan, penundaan terpaksa dilakukan, melihat kondisi saat ini, dimana Pandemi Covid-19 masih berlangsung, khususnya di daerah Purworejo. Dan dari pemerintah melarang kegiatan yang sifatnya mendatangkan banyak orang (berkerumun).

“Ditunda sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, sambil melihat kondisi makin membaik,” ujar Yayan.

Penundaan itu sendiri, sudah disampaikan di hadapan panitia, yang dihadiri juga oleh jajaran Forkopimca Kutoarjo, seperti Kapolsek, Danramil, Camat, juga dari Gugus Tugas Covid-19.

Yayan berharap, penundaan tersebut bisa disampaikan ke masyarakat, karena sebelumnya undangan/pemberitahuan juga sudah menyebar.

“Secara pribadi, saya legowo dan iklhas dengan penundaan ini. Semoga saja masyarakat Purworejo, khususnya warga Kiyangkongrejo bisa memahami kondisi saat ini. Nantinya acara tetap akan kita laksanakan, hanya tertunda saja,” ujar Yayan.

Lebih jauh Yayan mengungkapkan, acara pengajian yang dikemas dalam acara ‘Ngopi Bareng Gus Miftah’ tersebut, akan mendatangkan dai kondang Gus Miftah dari Yogyakarta.

Acara tersebut dilaksanakan atas inisiatif pribadi Yayan. Dalam pengajian tersebut, juga akan ada pemberian santunan untuk anak yatim, sekaligus sebagai tasyakuran Yayan, karena telah berhasil membantu masyarakat setempat dengan membangun jalan cor beton sepanjang 1 km lebih.

Sebenarnya, kata Yayan, acara ‘Ngopi Bareng Gus Miftah’ tersebut dikhususkan untuk jamaah jalanan, yakni orang-orang yang berkecimpung di jalanan, seperti preman, penjudi, PSK, LC, dan profesi sejenisnya.

“Sebagai siraman rohani. Harapannya, mereka bisa sadar, dan kembali ke jalan yang benar,” pungkas Yayan, yang didampingi Muhammad Wahid, ketua panitia. (Jon)