Pembayaran Nontunai sebagai Cara Aman dari Potensi Penularan Covid-19

    


Transaksi menggunakan aplikasi menjadi tren yang saat ini berkembang seiring pandemi COVID-19 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Uang menjadi salah satu media penyebaran kuman, bakteri hingga disinyalir dapat menjadi media penularan virus covid-19. Transaksi non tunai menjadi cara baru untuk menghindari resiko penyebaran penyakit.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, penggunaan teknologi digital menjadi pilihan untuk tetap beraktifitas. Bahkan untuk aktifitas transaksi pun, masyarakat banyak memanfaatkan teknologi digital.

Wakil Gubernur Cokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, pembayaran nontunai merupakan salah satu cara pembayaran yang mau tidak mau jadi pilihan yang efektif, aman dan pengelolaan akuntabilitas yang baik.

“Kebetulan pandemi Covid-19 mengharuskan kita semua untuk memulai lebih awal,” kata Cok Ace di Badung, Senin, 1 November 2021.

Pemerintah sendiri mendorong transaksi cashless dengan metode pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Pembayaran berbasis aplikasi ini memberikan kemudahan kepada semua orang.

Aplikasi QRIS sendiri, kata Kepala Wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, telah merambah pasar-pasar tradisional, yang dalam catatan sepanjang pandemi, pernah menjadi kluster penyebaran COVID-19.

“Termasuk pedagang yang ada di tengah pasar maupun kita secara pribadi akan tetap aman dari sentuhan benda dan juga orang lain,” kata Trisno Nugroho.

Dari lingkungan yang paling rentan terhadap sentuhan yakni pasar tradisional, QRIS Bank Indonesia juga merambah kepada wisatawan asing yang datang ke Bali. Di Bandara Ngurah Rai, aplikasi QRIS digunakan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jendera Bea Cukai Bali dan Nusra.

Seperti diketahui, dalam menyambut pembukaan pariwisata internasional, Bali menerapkan pemberlakuan protokol kesehatan yang sangat ketat. Termasuk penggunaan transaksi non tunai. Dalam hal ini menggunakan aplikasi QRIS.

Menurut Trisno, sepanjang pandemi mulai Januari hingga Mei 2021, Bali tercatat di urutan ketiga se-Indonesia sebagai pengguna sistem pembayaran digital.

“Terlihat dari data perbankan dan keuangan bahwa masyarakat sudah banyak yang menggunakan aplikasi QRIS, selain aman, ini juga akan mempercepat pemulihan ekonomi karena mampu menekan resiko penularan covid-19,” jelas Trisno.

Sementara, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jendera Bea Cukai Bali dan Nusra Susila Brata mengatakan, Direktorat Jenderal Bea Cukai Ngurah Rai adalah kantor pelayanan bea cukai pertama yang menggunakan digitalisasi pembayaran berbasis QRIS.

“QRIS untuk pembayaran pungutan negara di bidang kepabeanan atas barang bawaan penumpang yang baru datang dari luar negeri yang nilai barangnya melebihi fasilitas pembebasan yang telah ditentukan,” kata Susila Brata. (Wahyu Siswadi/Kode:Way)