Nafas Panjang Pengusaha Bali Hadapi Pandemi

    


Adaptasi perubahan perilaku para wisatawan yang mengunjungi obyek wisata dengan penerapan protokol kesehatan dan 6M - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Impian dan harapan pengusaha pariwisata demi merasakan kembali kedatangan wisatawan belum terwujud hingga pandemi berusia 1,5 tahun menerjang Bali.

Harapan itu tak hanya terjadi menginjak tahun kedua pagebluk melanda. Tapi sejak bulan Juli 2020 telah ada wacana pariwisata Bali akan dibuka secara bertahap dimulai dari wisatawan domestik.

Untuk menyambutnya, pengusaha mulai berbenah. Wacana membuka pariwisata domestik seperti menjadi jawaban dari harapan di tengah wabah. Dengan pengalaman di bisnis pariwisata, para pengusaha berani berspekulasi meminjam modal.

“Saat itu pariwisata mulai menggeliat sehingga pengusaha makin bergairah menyambut kedatangan wisatawan yang diprediksi ramai di bulan Desember,” kata Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kamis, 26 Agustus 2021.

“Bahkan, mereka kembali menambah pinjaman untuk membenahi tempat yang mereka kelola,” tambahnya.

Lalu apa yang terjadi kemudian?

Muncul kebijakan pengetatan pintu masuk di akhir tahun 2020 yang mewajibkan swab PCR menjadi syarat golden standard untuk wisatawan masuk ke Bali. Secara dramatis, jumlah kedatangan penumpang ke pulau Dewata melalui Bandara Ngurah Rai kembali anjlok.

Skenario berikutnya adalah vaksinasi yang secara gencar dan masif dilakukan di Bali. Percepatan vaksinasi kembali memunculkan harapan baru bagi pelaku pariwisata di Bali. Mereka berpikir bahwa upaya tersebut juga akan mempercepat dibukanya kembali sektor pariwisata.

“Namun harapan itu kembali terhempas karena dinamika Covid-19 yang tak bisa diprediksi hingga pemerintah kembali menerapkan kebijakan PPKM,” kata Cok Ace.

Wagub juga memahami dinamika covid-19 dan perekonomian adalah dua hal yang saling berkaitan.

“Keduanya saling berkolerasi, ketika ekonomi dibuka, kasus Covid-19 cenderung naik. Sebaliknya, ketika Covid-19 bisa dikendalikan melalui kebijakan pembatasan aktivitas, ekonomi nyungsep. Hukum sebab akibatnya seperti itu, tak bisa putus satu sama lain,” ujarnya.

Menanggapi keluhan pelaku pariwisata Bali, Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan bahwa pemerintah menaruh perhatian serius terhadap upaya pemulihan ekonomi Bali.

Pra kondisi dilakukan dengan memulai menggenjot program vaksinasi dan menetapkan tiga zona hijau yaitu Sanur, Ubud dan Nusa Dua. Namun dinamika pandemi Covid-19 memaksa pemerintah menerapkan kebijakan untuk mengerem laju penyebaran penyakit ini. Ia memastikan, pemerintah terus memikirkan upaya pemulihan Bali.

“Terlebih tahun depan Bali akan menjadi tuan rumah pertemuan G20. Kita berharap dua bulan sebelum itu kita bisa melakukan kick off pembukaan pariwisata Bali,” kata Sandiaga. (Way)