Menelusuri Jejak Uang RI dari Masa ke Masa di Musium Bank Indonesia

oleh
Kunjungan kegiatan Capacity Building Media bersama Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali di Musium Bank Indonesia, Jakarta Barat, Selasa (25/7/2023) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sebuah herritage yang berlokasi di tengah Kota Tua, Jakarta Barat ini, dulunya merupakan gedung De Javasche Bank (DJB).

Bank swasta milik Belanda itu punya peran penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam perjalanan waktu, gedung dengan jumlah 300 tiang beton pancang itu kemudian dinasionalisasi dan berganti nama menjadi Bank Indonesia. Selanjutnya, dihibahkan oleh Ratu Wilhelmina kepada pemerintah Indonesia.

Di musium itu tersimpan berbagai jenis alat tukar yang pernah digunakan di Nusantara sejak jaman kerajaan, masa kolonialisme hingga mata uang rupiah yang saat ini digunakan. Bahkan, uang edisi terbatas 75 tahun Indonesia merdeka juga telah mengisi koleksi Musium Bank Indonesia.

“Uang rupiah khusus juga pernah dirilis BI tahun 1987 berbentuk koin pecahan Rp 200.000. Uang koin ini berlapis emas 10 gram. Bagian depan bergambar Garuda dan bagian belakang badak bercula satu,” kata Edukator di Musium BI Febri Rifanti, Senin (25/7/2023).

Koin Rupiah Khusus Seri Cagar Alam 1987, juga pernah dirilis dalam beberapa keistimewaan seperti, koin pecahan Rp 10.000 berlapis perak 19,44 gram, dengan bagian belakang bergambar babi rusa.

Koin Rupiah Khusus Seri Cagar Alam 1987, juga pernah dirilis dalam beberapa keistimewaan - foto: Koranjuri.com
Koin Rupiah Khusus Seri Cagar Alam 1987, juga pernah dirilis dalam beberapa keistimewaan – foto: Koranjuri.com

Bank Indonesia juga pernah merilis koin Uang Rupiah Khusus peringatan 50 Tahun UNICEF. Ada juga koin mata uang Rp 150.000 berlapis emas 6,22 gram dengan bagian depan Burung Garuda dan belakang bergambar anak laki-laki bermain kuda lumping.

“Uang edisi terbatas itu jadi perburuan kolektor, nilai sejarahnya jauh lebih tinggi dari nilai mata uangnya,” kata Febri.

Yang menarik dari koleksi Musium Bank Indonesia di Kota Tua yakni, Uang Kampua dari Kerajaan Buton yang beredar pada abad ke-9. Uang itu berbentuk rajutan kain. Febri menjelaskan, uang Kampua dirajut oleh Putri Raja dengan bentuk dua telapak tangan sang raja.

“Pada masa kerajaan Buton tentunya, rajutan itu sulit ditiru karena bentuknya mengikuti dua telapak tangan raja,” jelas Febri.

Namun, mata uang Kampua bukan menjadi uang tertua di Nusantara yang pernah ditemukan. Uang tertua dibuat sekitar abad ke-9 yang disebut Krisnala (uang Ma) dari Kerajaan Mataram Kuno. Sedangkan Majapahit menggunakan uang Gobog yang terbuat dari tembaga dan meniru uang kepeng Cina.

Ketika Inflasi besar melanda Indonesia, Musium Bank Indonesia juga mengabadikan bentuk uang kertas yang dipotong dengan nilai menjadi setengah dari mata uang tersebut. Kedua potongan itu sah sebagai alat transaksi dengan nilai turun menjadi setengahnya dari setiap potongan. Masa itu terjadi saat Sjafruddin Prawiranegara menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama.

Rupiah Tetap Kuat di Negara Berdaulat

Deputi Direktur KPwBI Bali Andi Setyo Biwado menerima cenderamata dari pengelola Musium Bank Indonesia, Kota Tua, Jakarta Barat - foto: Istimewa
Deputi Direktur KPwBI Bali Andi Setyo Biwado menerima cenderamata dari pengelola Musium Bank Indonesia, Kota Tua, Jakarta Barat – foto: Istimewa

Perjalanan ke Musium Bank Indonesia di kawasan Cagar Budaya Kota Tua, Jakarta Barat, merupakan kegiatan Capacity Building Media bersama Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali.

Sebelum ke Musium Bank Indonesia, kegiatan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah dilakukan di Perum Peruri atau percetakan uang negara di Karawang, Jawa Barat.

Deputi Direktur KPwBI Bali Andi Setyo Biwado mengatakan, edukasi CBP Rupiah dibutuhkan untuk menjawab permasalahan di masyarakat dan perkembangan teknologi serta sistem
pembayaran.

“Sehingga Rupiah tetap dapat berdaulat di era digital. Di tengah perubahan yang terjadi, uang digital belum menggerus kartal rupiah,” jelas Andi.

Dijelaskan, Cinta Rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat untuk mengenal karakteristik dan desain Rupiah,
memperlakukan Rupiah secara tepat, dan menjaga dari kejahatan uang palsu.

Bangga Rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat memahami Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan NKRI, dan alat pemersatu bangsa.

Paham Rupiah merupakan perwujudan kemampuan masyarakat memahami peran Rupiah dalam peredaran uang, stabilitas ekonomi, dan fungsinya sebagai alat penyimpan nilai kemampuan. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS

KORANJURI.com di Google News