Inilah Pemimpin Kota Solo Lima Tahun Kedepan

oleh
Empu Totok Brojodiningrat - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Solo dikenal sebagai kota budaya, kota pewaris tahta Mataram Islam di tanah Jawa. Mataram pada masanya terbagi menjadi empat wilayah kekuasaan yakni, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta, Pura Pakualaman dan Pura Mangkunegaran.

Solo tidak hanya memiliki kedekatan histori peradaban peralihan dinasti Mataram Islam ke Republik. Namun, Solo juga dianggap sebagai Indonesia kecil karena kemajemukan masyarakatnya.

Solo mendapat julukan kota ‘sumbu pendek’ yang mudah terbakar. Solo juga dianggap sebagai salah satu barometer peta perpolitikan tanah air. Hal ini tak lepas dari sejarah masa silam Kota Solo.

Sejarah mencatat, sejumlah konflik etnis pernah terjadi di Solo, bahkan sejak abad 18. Hal itu dipicu sentimen rasis dan kecemburuan sosial,

Knflik sosial yang terjadi sejak jaman Mataram hingga masa reformasi, adalah awal mula melekatnya stigma sumbu pendek terhadap kota Solo.

Suksesi kepemimpinan di Kota Solo kerap menjadi isu panas di kalangan para pejabat, politikus dan masyarakat umum. Sehingga, peran serta pemerintah pusat sedikit banyak turut mendominasi langkah kebijakan politik daerah demi terciptanya situasi Solo yang kondusif, aman dan nyaman.

Ketokohan pemimpin setiap masa peralihan berbeda beda. Seseorang yang dipilih menjadi pemimpin hasil pesta demokrasi, tentunya harus mampu menyesuaikan kondisi jaman dalam mengelola managemen kebijakan.

Karena konstelasi politik, sosial dan ekonomi setiap waktu berubah mengikuti arus perkembangan jaman. Apalagi ditengah pesatnya modernisasi di era sekarang. Isu sara kerap dipakai sebagai managemen politik mengalahkan lawan.

Tak terkecuali, maraknya isu intoleransi dan merebaknya faham radikalisme yang tumbuh subur di tengah masyarakat, butuh keberanian seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan yang berpihak pada keutuhan dan kemajemukan masyarakat luas.

Kegamangan para elit menentukan siapa tokoh yang akan maju di Pilkada Kota Solo tahun 2020, tak lepas dari pertimbangan sejarah masa silam yang ingin menjaga Solo tetap kondusif.

Seperti halnya majunya putra sulung Presiden RI Joko Widodo, Gibran dan beberapa tokoh elit politik lain lewat partai besutan Megawati Soekarno Putri.

Terlihat elit partai sangat berhati-hati menentukan siapa bakal calon Walikota dan bakal calon Wakil Walikota yang akan menerima rekomendasi di Pilkada Surakarta September mendatang.

Secara umum, masyarakat berharap rekomendasi partai turun kepada Gibran. Meski ada juga kelompok masyarakat lain yang juga berharap sama, rekomendasi turun untuk jago yang diusungnya.

Terlepas dari persoalan siapa yang akan memperoleh rekomendasi politik tahun ini, salah satu tokoh budayawan asal Solo mengulas ketokohan para calon pemimpin dan kebutuhan pemimpin di masa yang akan datang berdasarkan petung pawukon.

Empu Totok Brojodiningrat, pangarsa Padepokan Keris Brojodiningrat yang juga ahli pawukon (Astrologi Jawa) mengulas perwatakan bakal calon pemimpin dari petung pawukon yang saat ini dibutuhkan untuk memimpin Kota Solo selama lima tahun kedepan.

Sebab Bagaimana pun, menurutnya, kehidupan manusia baik watak dan perilakunya tak lepas dari perputaran roda alam semesta. Sehingga ilmu pawukon sampai saat ini diyakini masih relevan di kalangan masyarakat Jawa sebagai cara menentukan hari baik dan membaca sifat perwatakan manusia.

Pemimpin, menurut Empu Totok Brojodiningrat, harus memiliki sifat Hasta Brata, 8 perilaku pengendalian diri.

Kepemimpinan dalam Hasta Brata melambangkan delapan unsur alam yaitu, bumi, Matahari, Api, Samudera, Langit, Angin, Bulan dan Bintang. Tiap unsur mengartikan karakteristik ideal seorang pemimpin dalam bersikap.

Salah satunya sikap atau watak bumi yang memberikan kebutuhan dasar semua mahkluk hidup. Diartikan seorang pemimpin, harus mampu memberi dan kokoh dalam bersikap. Memberi tanpa pamrih pada masyarakat yang di ayomi. Ihklas tidak mengeluh seperti bumi dan menjadi wadah menerima keluhan rakyat yang di ayomi.

Sikap Hasta Brata harus di topang dengan pembawaan watak Pancasuda Satriya Wibawa. Pacasuda atau Pawisesan adalah penggolongan sifat manusia yang di hitung dari angka angka khusus.

Pancasuda Satriya Wibawa diartikan di hormati orang karena kemulyaan dan keluhuranya. Watak ini tentunya harus di miliki seorang pemimpin dalam menjalankan amanah yang di embanya.

Pancasuda Satriya Wibawa memiliki perlambang Batara Yamadipati, Dewa yang tugasnya mencabut nyawa. Di lambangkan tokoh eksekutor, pemimpin yang berani mengambil kebijakan lapangan dan mengeksekusinya.

Secara umum kebutuhan pemimpin harus memiliki sifat Pancasuda Satriya Wibawa, mengingat saat ini sosial politik di tanah air membutuhkan ketegasan serta keberanian bertindak seorang pemimpin dalam mengelola managemen eksekusi.

Ketegasan pemimpin dan wakil pemimpin merupakan hal yang mahal dalam ketokohan pasangan kepala daerah. Oleh karena itu sikap Hasta Brata dan perwatakan Pancasuda hendaknya menjadi sifat utama yang harus dimiliki para tokoh saat mengikuti kontestan Pilkada kota Solo tahun 2020. (JK)

KORANJURI.com di Google News