Ekonomi Bali di Triwulan Kedua Merosot Drastis Akibat Pandemi

    


Obyek wisata alam buatan di Kabupaten Gianyar - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Tekanan ekonomi di Bali di Triwulan II 2020 terpuruk dengan posisi terdalam dibandingkan triwulan sebelumnya. Kontraksi yang jauh lebih rendah dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia. Termasuk, jika dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang berada di angka -5,32% (yoy).

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bali Trisno Nugroho mengatakan, dari sisi lapangan usaha, lapangan usaha utama tumbuh negatif. Hanya 3 lapangan usaha yang tumbuh positif yakni, informasi/komunikasi, jasa kesehatan, dan real estate.

Sementara, sektor transportasi dan penyediaan akomodasi makan dan minum mengalami kontraksi sebesar -39,48% dan -33,10%.

“Kedua sektor itu sangat erat hubungannya dengan pariwisata yang jadi tulang punggung perekonomian Bali,” jelas Trisno, Rabu, 5 Agustus 2020.

“Ketergantungan ekonomi Bali terhadap sektor Pariwisata mencapai 58%,” tambahnya.

Kebutuhan listrik, terutama di sektor perhotelan, dalam masa pandemi juga menurun. Sehingga, menyebabkan sektor listrik, gas, dan air tumbuh minus, -21,04%. Hal itu, kata Trisno, disebabkan oleh kunjungan wisatawan mancanegara yang tumbuh negatif (-99,97%, yoy).

“Penutupan penerbangan internasional dari dan ke Bali memberikan kontribusi besar tertekannya ekonomi Bali,” terangnya.

Dari sisi permintaan, semua komponen pengeluaran tumbuh negatif dengan kontraksi terdalam pada komponen ekspor luar negeri (-93.02%, yoy). Kinerja ekspor luar negeri yang kontraksi disebabkan oleh penurunan kunjungan wisatawan mancanegara.

Selain itu, kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi juga tercatat kontraksi, masing-masing -3.57% dan -15,48%. Kinerja impor juga terkontraksi sebesar -89.68% seiring dengan tertahannya kinerja pariwisata.

Sehingga menurunkan permintaan bahan makanan impor, serta adanya tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

BI Provinsi Bali memperkirakan kondisi ekonomi pada triwulan III 2020 akan membaik seiring strategi pemulihan tatanan ekonomi Bali melalui penerapan tatanan kehidupan baru pada sektor pariwisata.

Pemulihan wisatawan domestik diperkirakan akan berjalan lebih awal dibandingkan dengan pemulihan wisatawan mancanegara.

“Hal ini terkonfirmasi dari leading indicator jumlah kedatangan penumpang domestik di bandara internasional I Gusti Ngurah Rai yang tercatat sebesar 35.934 orang pada Juli 2020, atau tumbuh 468,94% (mtm),” kata Trisno.

Selain itu, optimisme pemulihan juga terkonfirmasi dari pengolahan big data google trends yang mencerminkan minat wisdom dan wisman ke Bali sangat besar.

Pencarian travel di Bali tercatat lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia maupun destinasi wisata lainnya di kawasan Asia.

“Peluang ini harus dioptimalkan, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat, sehingga pemulihan aspek ekonomi dan kesehatan dapat berjalan pararel,” jelas Trisno Nugroho. (Way)