Dibuka Kacabdin, SMK TI Kartika Cendekia Purworejo Sosialisasikan SMK PK Skema Pemadanan Industri

oleh
Dibuka Kacabdin, SMK TI Kartika Cendekia Purworejo Sosialisasikan SMK PK Skema Pemadanan Industri ke hadapan orang tua siswa, guru, karyawan dan komite, Rabu (14/09/2022) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMK TI Kartika Cendekia Purworejo, mengadakan Sosialisasi SMK Pusat Keunggulan (PK) Skema Pemadanan Industri dan Sosialisasi Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Rabu (14/09/2022).

Sosialisasi yang diikuti sekitar 160 peserta, terdiri dari orangtua siswa kelas X, guru, karyawan dan komite ini, dibuka secara resmi oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Jateng, Dr. Nikmah Nurbaity, S.Pd., M.Pd.BI. Sosialisasi juga dihadiri ketua Yayasan Kartika Puri, Fahmi Prihantoro, S.S., S.H., M.A., dan Kepala SMK TI Kartika Cendekia Purworejo, Agus Setya Ardiyanto, A.Md.

Dalam kesempatan tersebut, Nikmah memberikan apresiasi terhadap SMK TI Kartika Cendekia Purworejo, yang sudah menjadi SMK PK. Disebutkan, untuk menjadi sekolah PK itu tidak mudah. Sarat-syarat yang harus dipenuhi banyak sekali, karena sekolah harus memiliki potensi untuk berkembang, potensi untuk menjadi pusat keunggulan, dan potensi untuk menjadi rujukan bagi SMK-SMK yang lain.

“SMK TI Kartika Cendekia ini merupakan salah satu SMK PK yang awal sekali untuk Purworejo dan Cabdin Pendidikan wilayah VIII Jateng. Dan di tahap kedua ini, mendapatkan kelanjutannya, SMK PK Skema Pemadanan Industri,” jelas Nikmah.

Dengan Skema Pemadanan ini, SMK TI Kartika Cendekia mendapatkan kerjasama dari dunia usaha dunia industri (Dudi), juga mendapatkan bantuan dari Dudi tersebut, bisa berupa kegiatan, dana CSR, di mana ketika mendapatkan dari Dudi pemerintah memberikan pemadanan yang sama.

Misalnya, kata Nikmah, bila mendapatkan satu miliar dari Dudi, maka pemerintah memberikan satu miliar. Misalnya mendapatkan Rp 800 juta dari Dudi, maka pemerintah memberikan yang sama, pemadanan Rp 800 juta. Dan SMK TI Kartika Cendekia ini mampu menghadirkan Dudi yang memberikan bantuan, sehingga sekolah mendapatkan pemadanan dari pemerintah.

“Dan ini prestasi yang luar biasa. Pemerintah memang memberikan challenge/ tantangan bagi sekolah-sekolah SMK, bagaimana mampu bekerja sama link and supermatch dengan Dudi termasuk di sana nanti penyerapan lulusannya di Dudi tersebut, kemudian pelatihan guru-guru magang dan guru tamu dari Dudi ke SMK,” kata Nikmah.

Keberhasilan ini, ujar Nikmah, merupakan hasil kerja keras dari sekolah, yang bisa dicontoh oleh sekolah-sekolah lain. SMK mendapatkan bantuan dari Dudi sekaligus pemadanan dari pemerintah.

“Harapannya, program pemadanan yang nilainya cukup besar ini, betul-betul bermakna. Jadi program tidak hanya program kemudian selesai. Harapannya program ini memberikan impact/ dampak kebermaknaan, kebermanfaatan dan juga masa depan para siswa itu lebih jelas, yaitu mengenal betul Dudi, mengenal betul tuntutan kompetensi yang dibutuhkan, kemudian nanti bisa diserap di Dudi itu,” terang Nikmah.

Agus Setya Ardiyanto juga menjelaskan, dalam PK Skema Pemadanan, sekolah menggandeng mitra industri sesuai dengan konsentrasi keahlian yang diajukan menjadi program PK, dalam hal ini Desain Komunikasi Visual (DKV).

“Kita menggandeng dua industri. CV Abang Ireng Kreatif dan CV Renjana Biru Offset. Keduanya dari Yogyakarta,” kata Agus.

Dalam Pemadanan ini, ungkap Agus, sekolah dibantu oleh industri untuk program SMK PK, apa kegiatannya, seperti sinkronisasi kurikulum, magang guru, PKL siswa kemudian praktisi mengajar, atau para ahli dari industri mengajar ke sekolah, baik untuk guru-guru maupun siswa. Nantinya ada sertifikasi untuk guru yang magang dan anak-anak yang PKL di industri.

Dari industri tadi, kemudian diusulkan ke Direktorat Kementrian. Karena industri menyetujui dan sanggup membiayai kegiatan ini, dari Direktorat menurunkan anggaran juga untuk programnya, yaitu kegiatan pembelajaran, IHT dan lain-lainnya, seperti kegiatan workshop, yang akan dilaksanakan hingga akhir November.

“Setelah menjadi SMK PK Pemadanan, kita konsentrasinya adalah pengembangan Teaching Factory atau unit produksi, agar sekolah bisa menjadi mandiri. TeFa tadi bisa untuk implementasi pembelajaran praktik anak, bekerja sama dengan industri. Nanti job-job dari industri bisa masuk melalui Teaching Factory kita,” pungkas Agus. (Jon)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS

KORANJURI.com di Google News