Daerah Lain di Bali Deflasi, Denpasar Bertahan Inflasi Gegara Tarif Parkir Naik

oleh
Patung Catur Muka yang berada di titik nol Kota Denpasar. Patung yang dibuat seniman asal Ubud I Gusti Nyoman Lempad itu terbuat dari granit, setinggi 9 meter dan menghadap empat penjuru mata angin ke arah, Utara, Selatan, Timur dan Barat - foto: Denpasar tourism

KORANJURI.COM – Di bulan Mei 2024, untuk pertama kalinya secara nasional terjadi deflasi, terhitung dalam setahun terakhir. Bali juga jadi salah satu wilayah dengan harga-harga kebutuhan pokok ikut anjlok.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perkembangan harga di Provinsi Bali periode Mei 2024. Secara bulanan, Bali mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm).

Deflasi yang dialami pulau Dewata lebih dalam dibandingkan deflasi nasional rata-rata sebesar -0,03% (mtm).

ARTIKEL LAIN
Melimpahnya Pasokan Beras dan Cabe Rawit ke Bali Picu Deflasi Bulan Mei 2024

Kepala Biro Pengadaan Barang/Jasa dan Perekonomian Setda Provinsi Bali I Ketut Adiarsa menjelaskan, hanya Denpasar yang mengalami inflasi bulanan dibandingkan 3 kota indeks harga konsumen (IHK) lainnya yakni, Badung, Tabanan, dan Singaraja.

“Jadi memang kenaikan tarif parkir yang punya andil untuk inflasi Denpasar. Kalau Denpasar tidak ada kenaikan tarif parkir, bisa deflasi sebenarnya,” kata Ketut Ardiasa, Rabu, 5 Juni 2024.

Secara spasial, Kota Singaraja mengalami deflasi paling dalam sebesar -0,33% (mtm) atau 2,92% (yoy). Tabanan deflasi sebesar -0,28% (mtm) atau 3,56% (yoy), Badung -0,09% (mtm), atau 4,01% (yoy), dan inflasi Denpasar mengalami sebesar 0,05% (mtm), atau 3,52% (yoy).

“Inflasi Provinsi Bali tercatat sebesar 3,54 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,84 persen secara tahunan. Bali dan Nasional sebenarnya sama-sama mengalami inflasi secara tahunan deflasi secara bulanan,” jelasnya.

Deflasi dipicu dari penurunan harga beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, dan cabai rawit. Penurunan harga beras dan cabai rawit terdorong oleh melimpahnya pasokan saat musim panen raya di Bali.

Penurunan harga tomat dan sawi hijau sejalan dengan meningkatnya pasokan dari Jawa dan membaiknya cuaca.

Selanjutnya, penurunan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya pasokan daging ayam ras dari Jawa. Harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak juga mengalami penurunan.

Tekanan deflasi seringkali memperlambat pertumbuhan ekonomi. Berkurangnya belanja konsumen dan perolehan laba perusahaan jadi bagian dari dampak buruk terjadinya deflasi. (Way)

KORANJURI.com di Google News