BI Waspadai Tekanan Inflasi Akibat Pandemi Covid-19

    


Foto: Ilustrasi

KORANJURI.COM – Bank Indonesia memperkirakan, pembatasan sosial saat pandemi global covid-19 berkonsekuensi terhadap perlambatan beberapa kegiatan produksi dan distribusi.

Kepala Kantor Perwakilan wilayah BI Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan, perlambatan produksi dan distribusi perlu diwaspadai terhadap tekanan inflasi kedepan.

“Potensi inflasi itu perlu dikawal agar tetap dalam level yang rendah dan stabil,” jelas Trisno, Kamis, 27 April 2020.

Dalam upaya menjamin ketersediaan pasokan bahan kebutuhan pokok, Bank Indonesia mendorong Pemerintah Daerah untuk melakukan kerjasama antar daerah.

Pada Maret 2020, Bali mengalami inflasi sebesar 0,12% (mtm) atau melandai dibandingkan bulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 0,44% (mtm).

Komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi Maret 2020 terutama, canang sari (0,09%), emas perhiasan (0,05%), mangga (0,03%), telur ayam ras (0,03%) dan kue kering berminyak (0,02%).

Perkembangan inflasi Bali bulan Maret ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Nasional yang dibukukan sebesar 0,10% (mtm). Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 3,04% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan dengan Nasional yang sebesar 2,96% (yoy).

Inflasi Bali pada Maret 2020 masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 3,0%±1% (yoy).

Inflasi Provinsi Bali tersebut merupakan kombinasi inflasi pada dua kota sampel IHK yakni, kota Denpasar yang tercatat sebesar 0,11% (mtm) dan kota Singaraja dengan inflasi sebesar 0,15% (mtm).

Dengan perkiraan akan tibanya pasokan gula pasir ke dalam negeri, termasuk ke Bali, tekanan harga bahan pokok diperkirakan akan menurun.

Penurunan tersebut akan menjadi lebih besar seiring dengan perkiraan rendahnya permintaan akibat penurunan kedatangan wisman ke Bali.

“Dengan demikian maka harga bahan-bahan pokok diperkirakan akan tetap rendah dan terkendali,” jelas Trisno. (Way)