BI Rekomendasikan Tabanan Garap Pertanian sebagai Sumber Ekonomi Baru

oleh
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya (kiri) bersama Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho meninjau pasar murah di Tabanan, Kamis (22/4/2021) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bank Indonesia mencatat, sebelum pandemi covid-19 berlangsung, perekonomian di Kabupaten Tabanan konsisten tumbuh di atas 5% setiap tahun.

Namun, kontraksi terjadi di tahun 2020 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar -6,14% (yoy). Ditinjau dari kontribusi lapangan usaha, Produksi Domestik Regional Bruto Kabupaten Tabanan didominasi oleh sektor pertanian (23,03%) dan pariwisata (17,16%).

Kedua sektor juga mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu, masing-masing sebesar -1,20% dan -24,84%.

Bank Indonesia merekomendasikan agar sektor pertanian digarap sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dengan tiga strategi, yakni petani milenial Bali, digitalisasi pertanian dan hilirisasi komoditas pertanian.

“Untuk mendukung ketiga strategi tersebut agar berjalan efektif, dibutuhkan dukungan regulasi, anggaran, kemudahan berinvestasi, pembiayaan perbankan, serta penguatan kelembagaan dan pemasaran,” kata Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho, Kamis (22/4/2021).

Berdasarkan data neraca pangan, Kabupaten Tabanan mengalami defisit pada tiga komoditas yakni, bawang merah, bawang putih dan cabai besar. Bank Indonesia mendorong terbentuknya BUMD pangan untuk meningkatkan serapan hasil produksi pertanian.

“Termasuk, kerja sama antar daerah dengan daerah lain, baik intra provinsi maupun antar provinsi yang mengalami surplus pada ketiga komoditas tersebut,” kata Trisno.

Sementara, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menyampaikan tiga arahan strategis di sektor pertanian.

Pertama, diversifikasi tanaman pangan. Kabupaten Tabanan merupakan lumbung pangan penghasil beras terbesar di Provinsi Bali. Komang Gede Sanjaya mengatakan, Kabupaten Tabanan akan mulai mengembangkan komoditas pertanian bernilai ekonomis tinggi.

Kedua, program bangga menjadi petani. Tenaga kerja yang terkena imbas penurunan aktivitas ekonomi di sektor pariwisata akan diarahkan untuk menjadi petani dan ikut mengolah lahan sawah yang masih potensial.

Ketiga, larangan alih fungsi lahan pertanian untuk menjamin keberlanjutan hasil produksi pertanian Kabupaten Tabanan.

“Sektor pertanian sebagai salah satu tumpuan perekonomian Kabupaten Tabanan akan didorong untuk berdaya saing,” kata Bupati. (Way)

KORANJURI.com di Google News