Bandara Ngurah Rai Tak Ambil Kebijakan Resistan Soal Isu Warga India Masuk Bali

    


Calon penumpang pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mengikuti prosedur protokol kesehatan - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sejumlah warga negara India ditengarai masuk Indonesia pasca gelombang ketiga serangan covid-19 yang melanda negeri tersebut. Dikhawatirkan, mereka akan tembus ke Bali setelah masuk ke Indonesia melalui Bandara Ngurah Rai Bali.

Stakeholder Relation Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Taufan Yudhistira menjelaskan, Bandara Ngurah Rai sendiri tidak mengambil kebijakan resistan menghadapi isu tersebut.

Sesuai prosedur, pengetatan tetap dilakukan pada protokol kesehatan. Setiap penumpang yang masuk melalui Bandara terbesar di Bali itu wajib menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR/Rapid Test Antigen maksimal 1×24 jam, atau menyertakan hasil negatif tes GeNose C-19.

“Bali sendiri belum melayani penerbangan internasional untuk kunjungan wisatawan. Setiap penumpang penerbangan domestik ketentuannya sama, tetap wajib melewati prosedur protokol kesehatan dan mengisi formulir e-HAC,” kata Taufan, Selasa, 27 April 2021.

“Kalau pun warga India yang datang ke Bali tidak langsung ke Bali tapi ke daerah lain dulu, dan itu masuk sebagai pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN),” tambahnya.

Sementara, rencana pembukaan border untuk maskapai Singapura Airlines melalui Bandara Ngurah Rai, Taufan memastikan, itu bukan penerbangan wisata. Tapi penerbangan pengecualian sesuai dengan Permenkumham No 26 Tahun 2020. Peraturan perjalanannya juga sesuai surat edaran Satuan Tugas Covid-19 Nasional.

Penerbangan itu dikhususkan untuk penumpang yang mempunyai visa Dinas, diplomatik, maupun ijin tinggal. Nantinya akan ada dua kali penerbangan dalam sepekan yakni, setiap hari Selasa dan Jumat.

“Penerbangan pengecualian ini tetap memerlukan visa yang diterbitkan Imigrasi. Selama penumpang bisa menunjukkan, kami tidak bisa menolak,” ujarnya.

Terkait persiapan Bandara Ngurah Rai menyambut penerbangan internasional perdana pasca penutupan border, Taufan mengatakan, pihak Bandara telah menyiapkan fasilitas protokol kesehatan seperti tempat untuk RT/PCR. Penumpang internasional juga wajib melakukan karantina mandiri selama 5 hari.

“Soal karantina nanti kebijakan dari tim Satgas, entah itu Provinsi maupun Kabupaten Badung,” jelasnya. (Way)