Yayasan Toyota Astra Buka Kelas Budaya Industri di SMK PN2 Purworejo

    


Penyerahan logo kelas budaya industri, dari Yayasan Toyota Astra kepada SMK PN2 - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Yayasan Toyota Astra (YTA), secara resmi membuka Kelas Budaya Industri di SMK PN2 Purworejo, Rabu (29/8). Peresmian dilakukan oleh Hendratmaka, selaku Sekretaris Yayasan Toyota Astra.

Secara simbolis, peresmian ditandai dengan penyerahan logo kelas budaya industri, dari Yayasan Toyota Astra, kepada SMK PN2. Dilanjutkan dengan pengucapan janji siswa, serta penyematan pin siswa, yang dilakukan oleh Hendratmaka dan Sugiri, SPd, selaku Kepala SMK PN2 Purworejo.

Dijelaskan oleh Hendratmaka, bahwa SMK PN2 Purworejo, merupakan satu, dari 15 SMK di Jawa, yang menjadi pilot projects kelas budaya industri ini. Dengan kelas budaya industri ini, pihak yayasan ingin menyelaraskan praktek-praktek pengajaran di sekolah, dengan dunia industri, yang berkaitan dengan karakter dan mentalitas.

“Penekanan pada kelas budaya industri ini, pada karakter dan mentalitas. Dan kunci keberhasilan dari program ini, tergantung sekolah, siswa, dan orang tua siswa,” jelas Hendratmaka.

Diungkapkan oleh Hendratmaka, bahwa ada 10 mentalitas yang dituntut dalam dunia industri, yakni, semangat (etos kerja yang tinggi), daya saing yang tinggi, tekun, teliti, jujur, tanggungjawab, peduli, disiplin, inisiatif, dan mampu bekerja sama.

Kepala SMK PN2 Purworejo, Sugiri, saat menyematkan pin kepada perwakilan siswa kelas budaya industri, disaksikan Hendratmaka dari Yayasan Toyota Astra - foto: Sujono/Koranjuri.com

Kepala SMK PN2 Purworejo, Sugiri, saat menyematkan pin kepada perwakilan siswa kelas budaya industri, disaksikan Hendratmaka dari Yayasan Toyota Astra – foto: Sujono/Koranjuri.com

Mentalitas tersebut, menurut Hendratmaka, tidak muncul dengan sendirinya. Tapi harus melalui proses. Adanya kelas budaya industri ini, diharapkan bisa terpenuhi mentalitas dan karakter yang menjadi tuntutan dunia industri.

“Dari YTA ingin menunjukkan arah, supaya diterima di dunia industri. Kita berikan ilmu dan pengetahuan,” ujar Hendratmaka.

Sugiri, selaku Kepala SMK PN2 Purworejo mengucapkan banyak terima kasih pada YTA, karena dipercaya menjadi salah satu SMK yang membuka kelas budaya industri. Terbentuknya kelas ini, menurut Sugiri, bisa meningkatkan kemampuan siswa, dan mempersiapkannya untuk bekerja di dunia industri.

“Tujuannya, supaya siswa tidak canggung lagi saat bekerja di dunia industri,” ujar Sugiri.

Diharapkan, kata Sugiri, dengan mengikuti kelas budaya industri ini, kwalitas siswa dan intelegensinya bisa meningkat, dan lebih siap bekerja di dunia industri.

Terpisah, Marjuki Widianto, selaku Sekretaris Yayasan Pembaharuan, yang juga salah satu trainer kelas budaya industri menjelaskan, bahwa proses pemilihan siswa di kelas ini, sangat ketat. Dari 96 siswa kelas X jurusan teknik kendaraan yang menjalani seleksi, hanya 25 yang dinyatakan lolos.

“IQ minimal 104, nilai matematika minimal rata-rata per semester 7,0, dan bahasa Inggris minimal 6,8,” jelas Marjuki tentang kriteria siswa kelas budaya industri.

Nantinya, kata Marjuki, siswa akan belajar di kelas budaya industri ini selama satu tahun (dua semester). Untuk pengajarnya, guru dari pihak sekolah yang khusus dilatih menjadi trainer, serta dari pihak PT TMIN (Toyota Manufacturing Indonesia). Untuk materi pelajarannya, selain kurikulum pendidikan pada umumnya, juga materi khusus dari Toyota, tentang budaya industri. (Jon)