Working Space di Bali, Siap Sambut Kaum Digital Nomad

    


Wisatawan asal Tiongkok menikmati panorama Gunung Batur yang berada di Kintamani, Bangli - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Wakil Gubernur Bali Cokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menggagas branding baru pariwisata Bali. Tokoh pariwisata nasional ini mencetuskan Bali ‘working from Bali’ melalui branding working space .

Tak bisa dipungkiri, Bali tak hanya sekedar sebagai destinasi wisata. Namun sekaligus sebagai destinasi ruang kerja, atau kantor untuk bekerja (working space). Bahkan sudah sejak lama, wisatawan yang datang ke Bali, tak hanya sekedar menikmati wisata.

Mereka juga melakukan kegiatan bisnis dan pekerjaan. Di era digital, potensi Bali untuk lebih membidik mereka semakin terbuka. Ini karena Bali mempunyai modal yang sangat besar untuk wisata kaum digital nomad tersebut.

Kenyataan itu menjadi paparan utama dalam kampanye wisata Bali. Duta Besar Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun, mengatakan, Bali mempunyai modal besar untuk program working from Bali.

“Modal dasar yang paling penting adalah akses internet tanpa batas, yang cepat dan stabil,” ujarnya.

Menurutnya, modal tersebut akan sangat sempurna, jika dijalankan dengan program Bali Smart Island. Apalagi ditambah dengan modal alam, budaya, serta beragam fasilitas yang ada di Bali. Tentu akan menjadi tempat kerja yang sangat nyaman bagi kaum digital nomad. Hal tersebut diharapkan bisa memberikan pengalaman wisata tersendiri bagi mereka.

Faktanya, di China sendiri, sudah banyak perusahaan yang membidik Bali sebagai salah satu lokasi untuk working space. Mulai dari perusahaan IT raksasa hingga E-commerce.

Banyak diantara mereka yang membebaskan, atau memberikan keleluasaan bagi karyawannya untuk bekerja dari manapun. Terutama kalangan executive muda yang gemar berpetualang, sekaligus sebagai pekerja digital nomad.

“Para digital nomad ini, notabene mempunyai kecenderungan yang sama. Yaitu spend money (menghabiskan uang/belanja) yang sangat tinggi,” paparnya lebih lanjut.

Untuk bisa mensukseskan program wisata working space tersebut, masih perlu beberapa langkah lagi. Diantaranya, diperlukan promosi yang signifikan. Terutama di negara-negara, dimana banyak perusahaan raksasa berdomisili. Juga kepada para pekerja kreatif, desainer, dan mereka yang secara umum tidak memerlukan kantor kerja yang formal.

Dan yang tak boleh ditinggalkan, adalah promosi lewat medsos (media sosial). Diakui atau tidak, perkembangan medsos saat ini, memberikan dampak yang sangat besar bagi siapapun dan bagi proyek apapun. Sehingga promosi lewat medsos mutlak harus dilakukan.

Sementara itu, Paulus Herry Arianto, CEO Indonesia Bali Chapter memberikan pernyataan senada. Bahwasanya, dampak pandemi covid-19 yang menghasilkan kampanye work from home, bisa di-elaborasikan menjadi work from Bali. Mengingat selama ini, ikon Bali terkenal sebagai destinasi wisata dunia. Dan Bali juga mempunyai segala potensi tersebut.

Sehingga sangat masuk akal, jika Bali menjadi pilihan utama bagi para digital nomad. Bahkan sebenarnya, sudah sejak lama mereka memasukkan Bali sebagai pilihan utama, untuk dijadikan tujuan working space. Alasannya, karena cuaca di Bali dianggap cukup bagus sepanjang tahun.

Juga, living cost (biaya hidup) juga lumayan terjangkau dibanding tempat wisata lain atau di negara lain. Dan faktor lain yang menjadi magnet kuat, adalah kenyataan Bali memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi.

“Selain itu, aspek keamanan yang cukup baik juga menjadi faktor penting bagi mereka. Sehingga Bali selalu menjadi prioritas utama untuk melakukan wisata sekaligus working space,” terang Paulus Herry Ariyanto.

Menilik perkembangan yang ada, Bali juga mempunyai keunggulan-keunggulan yang khas dibanding tempat lain. Misalnya kebijakan-kebijakan pemerintahan daerahnya yang sangat mendukung penuh sektor pariwisata. Terlebih dalam visi Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini.

Pemerintah sangat melihat sektor pertanian dan industri 4.0, sebagai pilar penting untuk mendukung kemajuan pariwisata.

Merujuk pada salah satu survey yang ditujukan kepada para pekerja dunia. Saat ini mereka sekitar 78 % menginginkan lebih fleksibel dalam tempat serta waktu untuk bekerja. Dan 82 % menginginkan lingkungan kerja yang lebih seimbang, atau meminimalisir resiko stress dalam bekerja.

Sementara 54 % pekerja mengaku, akan bersiap atau berencana meninggalkan pekerjaannya saat ini, jika mereka mendapat peluang memperoleh pekerjaan yang lebih fleksibel.

“Program kampanye wisata working from Bali ini, tentu harus didukung dalam hal kemudahan pemberian visa. Atau kebijakan khusus visa untuk para digital nomad, agar bisa menunjang hal tersebut,” lanjutnya.

Selain itu setiap banjar adat harus bisa mendapatkan manfaat dari jenis wisata baru ini. Sehingga setiap kabupaten hendaknya bisa memetakan dan menyediakan working space khusus tersebut.

Berdasarkan pengamatan Paulus Herry Ariyanto, rata-rata para digital nomad tersebut bisa menghabiskan sekitar 1300 US Dollar per bulan per orangnya. Sehingga jika dihitung per tahun sama dengan 15.600 US Dollar.

Jika angka tersebut dikalikan 100 ribu orang saja, maka potensinya mencapai 1,56 Milyar US Dollar. Atau setara dengan angka Rp 21,4 triliun. Jumlah yang sangat fantastis. Tentu menjadi peluang baru yang sangat menjanjikan jika digarap dengan serius. (med/*)