Walikota Solo Jawab Keresahan Pedagang Terkait Revitalisasi Taman Sriwedari

    


Keterangan Foto: Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo beserta jajaran dinas terkait saat menerima komunitas pedagang Sriwedari / Foto : koranjuri,com

KORANJURI.COM – Keresahan para pedagang Sriwedari yang tergabung dalam FOKSRI ( Forum Komunitas Sriwedari ) terjawab sudah, setelah mereke bertemu langsung dengan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo beserta kepala dinas di instansi terkait Pemerintahan kota Solo, menyangkut persoalan revitalisasi taman Sriwedari.

Pasalnya pedagang resah tentang kejelasan nasib mereka, jika Pemkot Solo mulai melakukan pembongkaran seluruh bangunan di kawasan Sriwedari

Dikatakan Rudi di hadapan para pedagang, jika pembongkaran kios para pedagang dilakukan, tentunya, Pemkot Solo lebih dulu menyiapkan lahan pengganti di sekitarnya.

‘ Agar para pedagang tetap masih bisa membuka usaha mengais rejeki’ Terang Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dalam paparanya.

Di tambahkan Rudi, secara tehnis pembangunan revitalisasi Taman Sriwedari bergantung dari tim tehnis pembangunan.

Dimana lebih dulu bangunan yang akan di bongkar, serta bangunan mana saja yang masih di pertahankan sementara sebelum di bongkar, terangnya

Harapan Rudi, revitalisasi akan membuka lahan seluas tiga puluh tiga persen ruang terbuka hijau dari 18% ruang terbuka yang saat ini ada di Taman Sriwedari.

Paparan Rudi ini sekaligus menjawab kekhawatiran komunitas para pedagang Sriwedari yang selama ini menggantungkan hidup di taman Sriwedari.

Revitalisasi kata Rudi, tidak akan menghilangkan nilai histori taman Sriwedari, justru mengembalikanya ke historical awal bonrojo. Dimana adat tradisi budaya seperti maleman dan selikuran akan di selenggarakan kembali, jelasnya.

Mengawali revitasasi, saat ini Pemkot Solo sudah melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid Taman Sriwedari di lahan bekas THR.

Masjid tersebut memiliki menara yang juga dijadikan sebagai menara pandang setinggi 114meter dengan dilengkapi lift untuk naik ke atas menara.

Selain revitalisasi, seluruh bangunan baik fungsi dan letaknya juga akan di tata ulang. Sehingga Sriwedari nantinya bisa menjadi ruang publik seni, budaya dan religi bagi warga masyarakat kota Solo.Namun tidak meninggalkan nilai ekonomi warga sekitar.

Dia mencontohkan, Joglo Sriwedari rencananya akan di pindahkan ke tengah Segaran, sehingga sejarah masa silam akan di ingat kembali di segaran sebagai tempat menyalurkan bakat kreasi seni budaya.

Gedung wayang orang yang sudah berusia seratus tahun lebih, jika di mungkinkan akan di pergunakan sebagai museum.

Pedagang pigura tetap akan menempati tempat biasanya mereka berusaha, tetapi penempatanya akan di tata ulang.

” Rencananya menjadi dua lantai, lantai atas untuk showroom, lantai bawah untuk usaha’ Terang Rudi

Yang sama, pembina Forum komunitas Sriwedari, Kusuma Putra, SH,MH mengapresiasi langkah Walikota merevitalisasi Taman Sriwedari untuk ruang publik.

Di akui oleh Kusuma, tanpa ada peran serta Pemkot Solo, kemungkinan besar masyarakat Solo sekarang sudah tidak lagi memliki Taman Sriwedari sebagai ruang publik seni, budaya dan religi.

Bisa jadi akan beralih fungsi menjadi mall karena tempatnya sangat strategis di tengah kota. / Jk