Wagub Ajak Bersinergi Tekan Laju Inflasi Jelang Nataru 2019

    


Ardana Sukawati (Cok Ace) - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) mengajak semua pihak bersinergi menjaga kestabilan harga barang menjelang Hari Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2019. Wagub menyampaikan di acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah Provinsi Bali, di Ruang Tirta Empul, Kantor Bank Indonesia, Selasa (29/10/2019).

Dikatakan Wagub, tingkat inflasi Bali sebesar 2,54 % atau lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang sebesar 3,39%. Menjelang Nataru 2019, kebutuhan bahan pangan dipastikan meningkat. Hal itu, harus diantisipasi agar tidak berpengaruh pada peningkatan inflasi.

Menghadapi kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Provinsi Bali telah menyusun beberapa langkah diantaranya, koordinasi dan sinergisitas dari seluruh pihak untuk menjaga stabilitas harga, peningkatan jangkauan sumber produksi pertanian, penyediaan sistem pergudangan serta cold storage untuk menjaga ketersediaan pasokan sepanjang tahun. Termasuk, menghadapi panen raya dan masa paceklik.

“Semua pihak saya harap bersinergi dalam menjaga stabilitas harga, kita samakan persepsi dan  fokus. Harga harus stabil dan jangan berikan kesempatan bagi tengkulak dan spekulan memanfaatkan situasi,” jelas Wagub. 

Untuk mengontrol laju inflasi menjelang Nataru tahun ini, Wagub Cok Ace yang juga sebagai Ketua TPID Provinsi Bali ini, akan mengambil beberapa langkah antisipasi diantaranya, melakukan sidak pasar, pasar murah serta pemantauan harga harian terkait inflasi melalui pemantauan Sistem Informasi Harga Pangan Utama dan Komoditas Strategis (Singapura) Provinsi Bali. Kesiapan pelabuhan serta infrastruktur transportasi, stok pangan, pasokan BBM, serta tarif maskapai penerbangan dan angkutan.

“Ketersediaan stok barang, pemantauan harga, distribusi serta komunikasi antar semua komponen menjadi kunci penting dalam menekan laju inflasi. Saya juga berharap masyarakat berbelanja sewajarnya tidak perlu menyetok atau menimbun kebutuhan pangan. Ketersediaan pangan mencukupi, jadi jangan kawatir,” ujarnya demikian.

Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra yang juga menjabat sebagai Ketua Harian TPID Bali, mengatakan, TPID telah menyiapkan langkah strategis untuk menekan laju inflasi menjelang Nataru. Disamping, ketersediaan stok pangan, kestabilan harga serta distribusi, komunikasi antar komponen masyarakat memegang peran strategis dalam pengendalian inflasi. Dengan komunikasi yang efektif, masyarakat akan mendapatkan informasi yang jelas terkait ketersediaan pangan sehingga tidak ada masyarakat yang menimbun ataupun menyetok pangan berlebihan yang akan memicu inflasi.

Sementara itu Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan, hingga September 2019, inflasi tahunan Bali masih berada di bawah inflasi nasional. Namun perlu dicermati adanya fluktuasi komoditas yang selalu mengalami kenaikan di Triwulan IV seperti beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, daging babi dan ayam serta telur.

Trisno juga menekankan tarif angkutan udara terkait lonjakan permintaan pada periode peak season pariwisata.
Untuk itu, TPID mengambil sikap dalam pengendalian inflasi jangka pendek untuk Triwulan IV 2019 diantaranya, pelaksanaan program pengendalian inflasi sesuai kewenangan masing-masing OPD, menghimbau masyarakat agar tidak berbelanja berlebihan, serta pelaksanan pasar murah agar menyediakan komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang inflasi seperti bawang, cabai dan daging.

High Level Meeting TPID dihadiri oleh perwakilan TPID Kabupaten/Kota se Bali, perwakilan Bulog, perwakilan BPS Provinsi Bali, Kepala Dinas terkait di lingkungan Pemprov Bali bersama stakeholder lainnya. (*)